Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fakta-fakta tentang Evergrande, Raksasa Properti China yang Berada di Ambang Kebangkrutan
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews - Krisis keuangan salah satu grup properti terbesar di China, Evergrande, menjadi sorotan dunia belakangan ini. Pasalnya, jeratan utang Evergrande telah menembus total 300 miliar dolar AS atau setara Rp4.270 triliun. 

Perusahaan telah memberi peringatan kepada investor atas risiko gagal bayar. Meskipun kemungkinan masuknya pendapatan baru masih terbuka lebar, hal ini memiliki risiko, mengingat dana perusahaan yang terbatas, sementara beberapa utang akan jatuh tempo di akhir pekan ini.

Sejumlah analis mengkhawatirkan apa yang dialami Evergrande saat ini dapat mengulangi krisis keuangan serupa yang terjadi pada 2008, yang menyebabkan Lehman Brothers Holding Inc (Lehman Brothers) bangkrut. 

Lehman Brothers adalah sebuah firma jasa keuangan raksasa di AS. Sebelum mengumumkan kepailitan pada 2008, Lehman adalah bank investasi terbesar keempat di AS, setelah Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Merrill Lynch. 

Sebagai firma jasa keuangan, Lehman Brothers bergerak di bidang bank investasi, penjualan dan perdagangan saham dan obligasi (khususnya sekuritas keuangan AS), penelitian pasar, manajemen investasi, saham swasta, dan perbankan swasta.

Pada 15 September 2008, Lehman Brothers mengajukan perlindungan kepailitan setelah eksodus massal sebagian besar kliennya, kerugian saham drastis, dan devaluasi asetnya oleh lembaga penilaian kredit. 

Pengajuan kepailitan Lehman Brothers menandai terjadinya kebangkrutan terbesar dalam sejarah ekonomi AS, dan dianggap memainkan peran utama dalam mengakibatkan krisis keuangan global pada akhir 2000-an. 

Senior Technical Analyst PT Henan Putihrai Sekuritas, Lisa C. Suryanata meyakini bahwa apa yang dialami Evergrande tidak sebesar krisis 2008. Argumen Lisa berangkat dari perbandingan total utang yang dialami kedua entitas tersebut.

"Perlu dicermati dengan kepala dingin bahwa krisis Evergrande tidak sebesar krisis properti tahun 2008 Subprime Mortgage yang angkanya mencapai 10 triliun dolar AS," kata Lisa, dalam 2nd Session Closing, Selasa (21/9/2021).

Dia mencermati pemerintah China sanggup melakukan bailout atau pemberian dana talangan bagi grup tersebut untuk mengurangi dampak di masyarakat.

"Tapi tampaknya pemerintah China sudah bisa gerak cepat dan gesit untuk menyuntikkan likuiditas atas utang yang mencapai 2 persen dari PDB China tersebut," tuturnya.

Dirinya berharap kabar buruk dari China itu tidak terlalu membawa dampak buruk bagi pasar modal Indonesia.

Mudah-mudahan, efek sentimen negatifnya di market akan lambat laun mencair setelah ada kabar bailout," tutur Lisa.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut