Fakta-fakta tentang Evergrande, Raksasa Properti China yang Berada di Ambang Kebangkrutan

Jeanny Aipassa ยท Rabu, 22 September 2021 - 07:31:00 WIB
 Fakta-fakta tentang Evergrande, Raksasa Properti China yang Berada di Ambang Kebangkrutan
China Evergrande Center di distrik Wan Chai, Hong Kong. (foto: istimewa)

HONG KONG, iNews.id - Masalah krisis keuangan yang membelit raksasa properti China, Evergrande, telah menjadi sorotan dunia, bahkan mencemaskan pelaku pasar sehingga membuat sejumlah indeks saham utama terpuruk.  

Para ahli menilai perjuangan Evergrande untuk membayar utang sebagai ujian besar, yang berisiko menjadi seperti kasus Lehman Brothers yang akan mengirimkan gelombang kejutan ke ekonomi China.

Minggu ini, menjadi tahap awal krisis keuangan Evergrande yang terkuak. Pada Senin, perusahaan seharusnya membayar bunga atas beberapa pinjaman bank. Namun perusahaan telah mengumumkan bahwa mereka berpotensi tidak mampu membayar utang.

Bloomberg melaporkan, pembayaran bunga untuk dua obligasi perusahaan dengan total lebih dari 100 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1,424 triiun itu, akan jatuh tempo pada akhir pekan ini. 

Dan otoritas keuangan telah memperingatkan para obligor bahwa mereka kemungkinan tidak dapat menerima pembayaran bunga obligasi, seperti pembayaran utang Evergrande ke perbankan yang belum dibayar.

Berikut ini adalah 5 fakta tentang Evergrande, yang menjadi raksasa bisnis properti hingga sampai pada kondisi krisis saat ini: 

1. Apa Bisnis Evergrande?

Evergrande adalah salah satu pengembang real estate terbesar di China. Perusahaan ini adalah bagian dari Global 500, yang berarti menjadi salah satu bisnis terbesar di dunia berdasarkan pendapatan.

Terdaftar di Hong Kong dan berbasis di kota Shenzhen di Cina selatan, perusahaan ini mempekerjakan sekitar 200.000 orang. Ini juga secara tidak langsung membantu mempertahankan lebih dari 3,8 juta pekerjaan setiap tahun.

Evergrande didirikan oleh miliarder China Xu Jiayin, juga dikenal sebagai Hui Ka Yan dalam bahasa Kanton, yang pernah menjadi orang terkaya di negara itu.

Evergrande membuat namanya di properti residensial, dan membanggakan bahwa memiliki lebih dari 1.300 proyek di lebih dari 280 kota di seluruh China, bahkan memperlebar bisnis melampaui itu.

Di luar sektor perumahan, grup ini telah berinvestasi dalam kendaraan listrik, olahraga, dan taman hiburan. Bahkan memiliki bisnis makanan dan minuman, menjual air minum kemasan, bahan makanan, produk susuts dan barang lainnya di seluruh China.

Pada 2010, perusahaan membeli tim sepak bola, yang sekarang dikenal sebagai Guangzhou Evergrande. Tim itu telah membangun apa yang diyakini sebagai sekolah sepak bola terbesar di dunia, dengan biaya 185 juta untuk Evergrande.

Guangzhou Evergrande bahkan sedang membangun stadion sepak bola terbesar di dunia, dengan asumsi bahwa konstruksi selesai tahun depan seperti yang diharapkan. Situs senilai 1,7 miliar dolar AS itu, berbentuk seperti bunga teratai raksasa, dan pada akhirnya akan mampu menampung 100.000 penonton.

proyek stadiun spektakuler yang dibangun Evergrande.
proyek stadiun spektakuler yang dibangun Evergrande.

Evergrande juga melayani wisatawan melalui divisi taman hiburannya, Evergrande Fairyland. Klaim ketenarannya adalah usaha besar-besaran yang disebut Ocean Flower Island di Hainan, provinsi tropis di Cina yang biasa disebut sebagai "Hawaii Cina."

Proyek ini mencakup pulau buatan dengan mal, museum, dan taman hiburan. Menurut laporan tahunan terbaru grup, itu mulai mengambil pelanggan secara uji coba awal tahun ini, dengan rencana pembukaan penuh pada akhir 2021.

2. Bagaimana Evergrande mengalami masalah?

Dalam beberapa tahun terakhir, utang Evergrande menggelembung karena meminjam untuk membiayai berbagai proyeknya. Grup ini mendapatkan reputasi buruk karena menjadi pengembang China yang paling berutang, dengan kewajiban senilai lebih dari 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.272 triliun.

Selama beberapa minggu terakhir, perseroan telah memperingatkan investor tentang masalah arus kas, mengatakan bahwa bisa mengalami gagal bayar jika tidak dapat mengumpulkan uang dengan cepat.

Peringatan itu, terungkap minggu lalu, ketika Evergrande menyampaikan dalam keterangan kepada otoritas bursa bahwa ia mengalami kesulitan menemukan pembeli untuk beberapa asetnya.

Para ahli menilai, ambisi agresif untuk membangun berbagai proyek termasuk yang spektakuler itulah yang membuat Evergrande terjerumus pada krisis keuangan. 

"Evergrande menyimpang jauh dari bisnis intinya, yang merupakan bagian dari bagaimana mereka masuk ke dalam kekacauan ini," kata Mattie Bekink, direktur Unit Intelijen Ekonomi China.

Analis Goldman Sachs mengatakan struktur perusahaan juga membuatnya sulit untuk memastikan gambaran yang lebih tepat tentang pemulihan. Hal itu, merujuk pada kompleksitas Evergrande Group, dan kurangnya informasi yang memadai tentang aset dan kewajiban perusahaan.

"Kisah Evergrande adalah kisah tentang tantangan yang mendalam dan struktural terhadap ekonomi China terkait dengan utang," kata Bekink.

Dalam sebuah catatan minggu lalu, Mark Williams, kepala ekonom Asia Capital Economics, mengatakan bahwa keruntuhan Evergrande akan menjadi ujian terbesar yang dihadapi sistem keuangan China selama bertahun-tahun.

"Akar masalah Evergrande dan masalah pengembang lain yang sangat berpengaruh adalah bahwa permintaan properti residensial di China memasuki era penurunan berkelanjutan," tulisnya. 

Editor : Jeanny Aipassa

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: