Kenaikan Solar Berimbas ke Biaya Logistik dan Harga Produk, Menperin: Bisa 10-15 Persen

Ikhsan Permana SP ยท Rabu, 31 Agustus 2022 - 20:40:00 WIB
Kenaikan Solar Berimbas ke Biaya Logistik dan Harga Produk, Menperin: Bisa  10-15 Persen
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Humas Kemenperin)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan kenaikan harga solar akan berimbas ke biaya logistik dan harga produk sekitar 10-15 persen. 

Menurut dia, sektor Industri akan terdampak langsung jika harga solar yang merupakan BBM bersubsidi dinaikkan. Dari sisi logistik, hal itu akan menambah ongkos pengiriman. Imbasnya, harga produk pun akan dinaikkan untuk menutupi biaya logistik yang melonjak.

“Kenaikan harga solar tentunya akan meningkatkan variabel biaya logistik dan kenaikan harga produk dengan kenaikan harga sekitar 10-15 persen,” kata Agus Gumiwang, dalam keterangan pers, Rabu (31/8/2022).

Dia menuturkan, guna semakin meningkatkan daya saing industri dalam negeri, Kementerian Perindustrian tengah memperjuangkan perluasan penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk industri. Ia menyebut kebijakan HGBT telah terbukti mampu memperkuat resiliensi dan daya saing industri pengguna gas. 

“Ini karena terjadi efisiensi, terutama pada biaya operasional dan bahan baku industri pengguna gas,” ungkap Agus Gumiwang.

Dia mengungkapkan, pemerintah saat ini tengah menggodok rencana penyesuaian harga BBM. Berdasarkan data yang kami miliki, pengeluaran IBS (industri besar, sedang) untuk bahan bakar dan pelumas pada tahun 2019 mencapai Rp58,7 triliun dan berperan sebesar 1,3 persen terhadap total biaya produksi.

Bila menggunakan angka pada tahun 2019 tersebut, maka untuk tahun 2021 dengan asumsi pertumbuhan sebesar 5 persen, pengeluaran bahan bakar dan pelumas mencapai Rp60 triliun dan berperan sebesar 1,4 persen.

“Dengan angka tersebut, saya berpendapat bahwa secara umum kenaikan harga Pertalite tidak berdampak siginifikan terhadap sektor industri manufaktur, tetapi tentu akan berdampak pada karyawan pengguna Pertalite,” ujar Agus Gumiwang.

Menperin menjelaskan, sektor industri nasional tengah menghadapi tantangan global, yang di antaranya bersumber dari dampak perang Rusia dan Ukraina. Akibatnya terdapat dua persoalan utama, yakni krisis pangan dan krisis energi.

Terkait dengan krisis pangan, perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan munculnya tiga isu, yaitu: 

1. Berkurangnya pasokan komoditi pangan seperti gandum dan minyak nabati

2. Munculnya fenomena proteksionisme negara-negara di dunia untuk mengamankan stok pangan domestik. Contohnya, India menghentikan ekspor gandum

3. Peningkatan konversi komoditas pangan menjadi bahan baku energi 

Ketiga isu tersebut dinilai mengakibatkan kenaikan index harga komoditi pangan global sebesar 32,5 persen (YoY) berdasarkan laporan World Bank Juni 2022. 

Dia menyampaikan bahwa pasokan bahan baku industri pangan dalam negeri akan terjamin. “Ke depan, kami mengupayakan agar lebih banyak lagi bahan baku lokal yang dikembangkan seperti tepung singkong, porang, sorgum, sagu, ganyong, hanjeli, hotong, pisang, sukun, talas, ubi jalar, dan lainnya untuk diversifikasi produk olahan pangan,” kata Agus Gumiwang.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda