Kisah Li Xiting, Konglomerat Singapura yang Hartanya Naik di Tengah Pandemi
SINGAPURA, iNews.id - Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia membuat kegiatan ekonomi setiap negara terganggu. Banyak bisnis-bisnis yang gulung tikar karena tidak adanya aktivitas masyarakat.
Berbeda dengan kondisi orang kebanyakan, konglomerat asal Singapura, Li Xiting justru dinobatkan menjadi salah satu orang terkaya versi Forbes pada tahun lalu, di mana pada November 2021 kekayaan Li Xiting tercatat mencapai 20,5 miliar dolar AS atau setara Rp304,57 triliun. Saat ini harta kekayaan Li tercatat sebesar 15,4 miliar dolar AS atau setara Rp228,80 triliun.
Kekayaan tersebut diraih berkat saham perusahaan perangkat medis berteknologi tinggi miliknya yakni Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics, yang melejit berkat tingginya permintaan ventilator. Li mendirikan perusahaan tersebut bersama dua kawannya yakni, Xu Hang dan Cheng Minghe.
Berkat tingginya permintaan, kekayaan Li terus bertambah sebesar 1 miliar dolar AS setiap bulan selama pandemi Covid-19. Kekayaannya bahkan sempat menyentuh 22 miliar dolar AS pada April 2021.
Pria kelahiran Dangshan County, China pada 1951 ini memulai karirnya dengan bekerja sebagai peneliti yang membantu sarjana di institut di Wuhan pada 1976 hingga 1987. Selain itu, ia juga sempat menjadi dosen tamu di Universitas Paris, Prancis, pada awal 1980.
Sarjana fisika dari Universitas Sains dan Teknologi China ini juga pernah bekerja di perusahaan teknologi tinggi Anke Shenzhen yang merupakan perusahaan pengembang perangkat medis rumahan pertama di China.
Perusahaan tersebut juga meluncurkan pemindai magnetic resonance imaging (MRI) perdananya pada 1989. Setelah itu, barulah ia mendirikan perusahaan teknologi medisnya sendiri dan berhasil mendapatkan kontrak pertamanya senilai 360 ribu yuan di tahun 1991.
Perusahaan yang bermarkas di Shenzhen tersebut membuat sistem pemantauan kesehatan, ventilator, defibrillator, mesin anestesi, dan sistem infus. Mindray juga menjadi perusahaan peralatan medis China pertama yang terdaftar di Bursa Efek New York, dan kini memiliki 17 anak perusahaan di China dan beroperasi di 30 negara
Selama pandemi Covid-19, Li telah mendonasikan peralatan medis senilai 4,6 juta dolar AS yang ditujukan kepada rumah sakit di daerah yang terdampak Covid-19, seperti Wuhan dan Italia Utara.
Tahun lalu, dia berhasil menempati posisi pertama daftar orang terkaya di Singapura, menggeser Eduardo Saverin, Goh Cheng Liang, dan Zhang Yong & Shu Ping.
Editor: Aditya Pratama