Krisis Industri Penerbangan, Airbus Bakal PHK Besar-besaran

Djairan ยท Selasa, 15 September 2020 - 15:23 WIB
Krisis Industri Penerbangan, Airbus Bakal PHK Besar-besaran

Produsen pesawat terbang asal Prancis, Airbus SE mengumumkan peringatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada total 130.000 karyawan. (Foto: Reuters)

TOULOUSE, iNews.id - Produsen pesawat terbang asal Prancis, Airbus SE mengumumkan peringatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada total 130.000 karyawan. Hal itu terpaksa dilakukan seiring perjalanan udara yang tampaknya butuh waktu lebih lama untuk pulih dari krisis akibat Covid-19.

Serikat pekerja dan pemerintah Prancis sebelumnya telah mendesak Airbus yang berbasis di Toulouse untuk menghindari pemangkasan tenaga kerja, setelah keputusan PHK pada bulan Juli yang memangkas 15.000 karyawan. Hal itu menunjukkan nada yang lebih pesimistis dari Airbus untuk mengatasi trafik penerbangan yang anjlok.

"Saya berhutang kepada Anda untuk bersikap transparan, sekarang saatnya saya menyampaikan bahwa sepertinya PHK sukarela sebelumnya masih belum cukup untuk mengatasi dampak dari krisis,” ujar CEO Airbus, Guillaume Faury melalui surat kepada karyawan, dikutip dari Reuters pada Selasa (15/9/2020).

Airbus telah berulang kali memperingatkan, prospeknya semakin tidak pasti karena krisis terburuk di industri penerbangan yang melanda produsen pesawat. Aturan perbatasan yang tidak konsisten menghambat pemulihan, sehingga sulit bagi maskapai penerbangan untuk membuat rencana ke depan.

“Sayangnya, pemulihan lalu lintas penerbangan selama periode musim panas belum mencapai tingkat yang diharapkan industri. Sekarang kita harus bersiap untuk krisis yang mungkin akan lebih dalam dan lebih lama dari yang dibayangkan,” tulis Faury.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan pekan lalu, bahwa lalu lintas udara gagal pulih secepat yang diharapkan. Lalu lintas pada bulan Juli turun 80 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019, sedangkan penurunan dengan titik terendah terjadi di bulan April hingga 94 persen. 

Editor : Ranto Rajagukguk