Krisis Parah, Malaysia Airlines Ajukan Keringanan Pembayaran Utang

Djairan ยท Sabtu, 03 Oktober 2020 - 19:07 WIB
Krisis Parah, Malaysia Airlines Ajukan Keringanan Pembayaran Utang

Pesawat Malaysia Airlines. (Foto: Reuters)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Malaysia Airlines Bhd kemungkinan tidak dapat membayar kewajiban utang hingga akhir 2020, karena krisis keuangan akibat Covid-19. Untuk itu perusahaan induknya, Malaysia Aviation Group mengajukan permohonan kepada lessor, kreditur dan pemasok untuk diberikan keringanan.

Maskapai penerbangan ini sebelumnya juga telah berbicara dengan bank dan perusahaan leasing untuk menunda pembayaran utang, namun belum mendapatkan lampu hijau. Dalam upaya restrukturisasi, maskapai tersebut telah melakukan pemotongan gaji pegawai manajemen dan pilot, menawarkan cuti tanpa upah hingga meminta penundaan pembayaran dan negosiasi ulang kontrak sejak Maret lalu.

“Dampak mendalam dari krisis Covid-19 yang berkepanjangan mengharuskan Malaysia Aviation Group untuk mengambil langkah drastis dalam merevisi rencana bisnis jangka panjang, upaya ini untuk memastikan relevansi dan kelangsungan bisnis grup maskapai,” ujar juru bicara Malaysia Aviation Group, dikutip dari Bloomberg Sabtu (3/10/2020).

Sementara itu perusahaan investasi pemerintah Malaysia, Khazanah Nasional sebagai pemegang saham tunggal Malaysia Aviation Group mendukung upaya restrukturisasi tersebut. "Jika upaya ini terbukti tidak berhasil, Khazanah perlu mengevaluasi opsi ke depan tentang cara menjaga konektivitas untuk Malaysia Airlines," kata juru bicara Khazanah.

Covid-19 menghalangi upaya Malaysia Airlines untuk kembali pulih setidaknya seperti awal 2014 silam, sebelum akhirnya diselamatkan oleh Khazanah. Pada Maret enam tahun lalu, maskapai tersebut mendapat pukulan hebat seiring insiden hilangnya pesawat dengan nomor penerbangan MH370 dan jatuhnya MH17 empat bulan kemudian.

Tahun ini, Malaysia Airlines mempertahankan beberapa penerbangan domestik dan rute internasional yang minim di tengah pandemi, sebagian besar untuk repatriasi dan operasi kargo. Sama halnya dengan penerbangan secara global yang tengah bergulat menangani penurunan perjalanan udara, di saat beberapa negara kembali menutup perbatasan baru-baru ini. 

Editor : Ranto Rajagukguk