Menko Luhut Sebut RI Bakal Produksi 600.000 Mobil Listrik

Rina Anggraeni · Rabu, 23 Juni 2021 - 15:35:00 WIB
 Menko Luhut Sebut RI Bakal Produksi 600.000 Mobil Listrik
Menko Marves Luhut Panjaitan mengunjungi PT IWIP, Halmahera Tengah, Selasa (22/6/2021). Luhut optimistis pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur positif. Foto: Istimewa

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan Indonesia bakal memproduksi 600.000 mobil listrik dan 2,45 juta motor listrik

Hal itu, dilakukan seiring kenaikan permintaan kendaaraan listrik secara global yang diperkirakan mencapai 31,1 juta unit pada 2030. Pasalnya, masyarakat secara global mempunyai kesadaran untuk mengurangi emisi karbon. 

"Di Indonesia sendiri, pemerintah menargetkan dapat memproduksi 600.000 unit mobil listrik dan 2,45 juta motor listrik. Peningkatan permintaan kendaraan listrik dapat menaikkan permintaan baterai, terutama jenis NCM (nickel-cobalt-mangan)," kata Luhut di Jakarta, Rabu (23/6/2021).

Terkait dengan kebutuhan baterai jenis NCM, pemerintah telah meresmikan operasi produksi fasilitas HPAL (High Pressure Acid Leaching) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. 

Pengolahan bijih nikel HPAL berbasis teknologi hidrometalurgi ini akan mendorong percepatan hilirisasi mineral menuju industrialisasi berbasis baterai dan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Menko Luhut menjelaskan, teknologi pengolahan untuk bijih nikel bisa melalui jalur RKEF (pirometalurgi) maupun HPAL (hidrometalurgi) seperti yang ada di Pulau Obi ini. 

Smelter HPAL ini akan banyak memanfaatkan bijih nikel dengan kadar yang lebih rendah (limonit), yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Ini merupakan bagian dari optimasi atau peningkatan nilai tambah dari sumberdaya mineral yang dimiliki oleh Indonesia.

"Indonesia memiliki sumberdaya dan cadangan nikel serta cobalt yang cukup, didukung oleh mineral lain seperti tembaga, alumunium, dan timah yang akan menjadi modal besar untuk bermain dalam industri kendaraan listrik,” ungkap Menko Marves.

Proses HPAL dapat menghasilkan produk nikel kelas satu, yakni Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai. Produk-produk ini bernilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dari jalur RKEF.

“Untuk itu, kita perlu dukung dan terus didorong untuk terjadi peningkatan investasi agar ada penambahan  _line_ (jalur) produksi, sehingga kita mendapat sebesar-besarnya manfaat dari proses produksi ini,” kata Menko Marves.

Editor : Jeanny Aipassa

Halaman : 1 2