Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : OJK Sebut Penempatan SAL Rp381 Triliun Tak Lagi Jadi Polemik di KSSK: Nggak Perlu Diperdebatkan Lagi
Advertisement . Scroll to see content

OJK Bakal Minta Penjelasan Bank Mandiri soal Sistem IT Eror

Senin, 22 Juli 2019 - 10:16:00 WIB
OJK Bakal Minta Penjelasan Bank Mandiri soal Sistem IT Eror
Bank Mandiri. (Foto: ilustrasi/Sindo)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Permasalahan sistem eror Bank Mandiri pada Sabtu (20/7) yang menyebabkan perubahan nominal saldo di 1,4 juta rekening nasabah memantik reaksi dan kritik dari banyak pihak.

Sistem infrastruktur teknologi informasi (information technology/IT) perbankan dan keamanan data nasabah bank pun kembali jadi sorotan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) siap meminta penjelasan kepda Bank Mandiri terkait kasus tersebut.

Deputi Komisioner Humas dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo mengatakan, pihaknya saat ini melakukan monitor dan mitigasi mengenai apa yang dilakukan oleh bank dan memprioritaskan aspek perlindungan konsumen. Hal ini terkait dengan hak nasabah, termasuk pemulihan layanannya setelah kejadian sistem eror di Bank Mandiri.

“Secepatnya OJK akan meminta Bank Mandiri tentu untuk segera me laporkan permasalahan dan apa saja langkah-langkah yang mereka lakukan untuk tidak terulang lagi di kemudian hari,” ujar Anto di Jakarta.

Saat ini yang terpenting, pelayanan nasabah sudah kembali normal dan tidak ada yang berkurang hak atau isi rekeningnya. Bank Indonesia (BI) memastikan saldo nasabah Bank Mandiri tidak akan hilang yang disebabkan oleh sistem eror karena Bank Mandiri telah memiliki sistem backup data seluruh nasabah.

“Kalau uang hilang, saya rasa enggak. Sistemnya sudah ada data, justru kalau saya lihat sudah responsif karena begitu kejadian langsung direspons sedang diatasi dan dijamin keamanannya,” ujar Kepala Komunikasi BI Onny Widjarnako di Medan.

Lebih lanjut dia menilai, perbankan harus memiliki standar operasional jika gangguan sistem terjadi dengan mengedepankan perlindungan konsumen.

“Jadi para nasabah jangan khawatir. Kita tunggu sampai (gangguan) diatasi. Perlindungan konsumen tetap dijaga, tidak hanya oleh bank itu sendiri, tetapi juga oleh regulator,” jelasnya.

Terkait sanksi, Onny belum bisa memastikan mengingat ada waktu toleransi yang diberikan kepada perbankan untuk mengatasi gangguannya sesuai prosedur.

“BI tidak gampang memberi sanksi, dilihat dulu apa (masalahnya). Kami lebih melihat perlindungan konsumen dulu. Konsumen harus merasa aman dan terkawal untuk keamanan dananya,” tandasnya.

Sebelumnya terjadi kepanikan para nasabah Bank Mandiri lantaran sistemnya eror yang menyebabkan perubahan nominal saldo pada 1,5 juta rekening nasabah pada Sabtu (20/7). Ada yang dananya berkurang, ada juga nasabah Mandiri yang dananya bertambah.

Di Pekan Baru misalnya puluhan nasabah melakukan aksi protes ke kantor Bank Mandiri. Mereka memprotes karena saldo tabungan mereka raib. Mereka meminta pihak bank bertanggung jawab.

“Saldo istri saya hilang, tinggal 0 rupiah. Sabtu kan memang buka sampai jam Rp12.00 WIB,” kata Andika, salah satu nasabah Bank Mandiri yang ikut mengantre karena saldo hilang.

Kasus ini juga sempat menyedot perhatian di dunia maya. Namun, berselang beberapa jam, masalah tersebut teratasi. Bank Mandiri melalui Corporate Secretary Rohan Hafas telah memastikan saldo rekening nasabah pulih seperti sediakala.

Dia memastikan permasalahan sistem IT yang terjadi pada akhir pekan lalu bukan disebabkan ada pembajak an dari hacker. Namun, permasalahan tersebut dipastikan terjadi karena ada sistem eror di hardware.

“Tidak di-hack, eror di hardware, lagi kita audit,” jelas Rohan ketika dihubungi KORAN SINDO.

Rohan mengaku nasabah yang terkena masalah dalam sistem IT hanya sekitar 10% dari total jumlah nasabah perseroan. Hal ini diperoleh dari sistem ketika melakukan pengecekan antara saldo backup dan saldo baru.

“Ternyata yang saldonya beda hitungannya 10% dari pemegang rekening. IT memang tidak pilih-pilih, tapi IT bisa meng-corrupt sebagian data saja,” jelasnya.

Harus Jadi Bahan Introspeksi

Pakar IT Institut Teknologi Bandung (ITB) Basuki Suhardiman menilai sistem IT perbankan di Indonesia relatif aman dan bagus. Itu terbukti, bank di Indonesia tidak pernah kebobolan seperti beberapa kali terjadi di negara lain.

Dia mencontohkan kasus pembobolan bank melalui jaringan internet di Korea Selatan dan India.

“Yang sekarang harus dilakukan adalah memperkuat audit reguler satu tahun sekali secara internal dan lima tahun sekali oleh eksternal," kata Basuki.

Kasus perbaikan sistem IT di Bank Mandiri yang sempat menimbulkan masalah, ujar Basuki, seharusnya tidak terjadi jika bank tersebut melakukan audit berkala terhadap sistem IT-nya.

"OJK dan BI sebagai pengawas harus mendorong perbankan di Tanah Air melakukan itu (audit berkala terhadap sistem IT) sebab sistem keamanan IT setiap saat berkembang. Audit reguler merupakan bentuk proses transparansi dan penjaminan," ujar wakil direktur Sistem dan Teknologi Informasi ITB ini.

Di Indonesia, tutur Basuki, sebagian besar bank menggunakan ISO 2701 atau standar keamanan IT. Beberapa bank swasta telah menerapkan ISO 2701. ISO 2701 merupakan sistem keamanan informasi yang cukup rigid. Namun, seharusnya bukan sekadar menggunakan ISO 2701 tanpa melakukan perkuatan-perkuatan.

Standar keamanan IT ISO 2701 cukup lengkap, baik jaringan, arsitektur, pengaturan orang, siapa yang boleh review security, maupun login system. Jika dijalankan secara tepat, risiko-risiko seperti itu bisa dikurangi.

"Jika bank tidak melakukan audit reguler, tentu akan menimbulkan risiko, risk analysis harus dilakukan. Kehati-hatian harus diutamakan. Bank itu jualannya trust, kepercayaan. Orang kehilangan uang satu rupiah saja ramai," ungkapnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo meminta supaya perbankan mempunyai sistem backup yang andal untuk menjaga kepercayaan nasabah. Kejadian gangguan saat sistem perbankan dinilai merugikan konsumen karena tiba-tiba rekening tabungan nasabah tidak sesuai saldo yakni ada yang berkurang dan ada juga yang bertambah.

“Jadi sekarang yang harus diperbaiki itu backup sistemnya. Backup juga harus yang andal supaya tidak merugikan nasabah,” ujarnya. 

Menurut dia, meski hanya 10% nasabah yang terkena dampak tersebut, tidak bisa dianggap sepele oleh Bank Mandiri. Pasalnya jika pelayanan perbankan tidak lekas diperbaiki, maka akan menghancurkan kepercayaan konsumen.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut