Pengusaha Terkaya Rusia ke Putin: Sita Aset Perusahaan Asing Bawa Kita Kembali ke 1917
MOSKOW, iNews.id - Pengusaha terkaya Rusia telah memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin agar tidak menyita aset perusahaan asing yang hengkang dari Rusia setelah negara itu menginvasi Ukraina. Langkah tersebut dinilai akan membawa negara itu mundur lebih dari 100 tahun.
Presiden raksasa logam Norilsk Nickel Vladimir Potanin mengatakan, Rusia berisiko kembali ke hari-hari penuh gejolak seperti saat revolusi 1917 jika menyita aset perusahaan dan investor Barat. Dia mendesak pemerintah Rusia untuk sangat hati-hati melanjutkan ancaman tersebut.
"Pertama, itu akan membawa kita kembali ke 100 tahun, ke 1917 dan konsekuensi dari langkah seperti itu - ketidakpercayaan global terhadap Rusia di pihak investor - akan kita alami selama beberapa dekade," kata dia dalam pesan yang diposting di akunnya di Telegram, dikutip dari CNN Business, Minggu (13/3/2022).
"Kedua, keputusan banyak perusahaan untuk menangguhkan operasi di Rusia, menurut saya, agak emosional dan mungkin diambil sebagai akibat dari tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada mereka dari opini publik di luar negeri. Jadi kemungkinan besar mereka akan kembali. Dan secara pribadi, saya akan menjaga kesempatan seperti itu untuk mereka," imbuhnya.
Banyak yang Hengkang, Perusahaan-perusahaan Asing Ini Pilih Tetap Beroperasi di Rusia
Potanin adalah miliarder terkaya Rusia. Menurut Bloomberg, kekayaannya mencapai 22,5 miliar dolar AS atau Rp321,7 triliun, meskipun kehilangan sekitar seperempat kekayaannya tahun ini karena sahamnya jatuh. Saham perusahaan kehilangan lebih dari 90 persen di perdagangan London sebelum dihentikan bulan ini, meskipun harga komoditasnya melonjak.
Norilsk Nickel adalah produsen paladium dan nikel bermutu tinggi terbesar di dunia, serta produsen utama platinum dan tembaga. Perusahaan dan produk utamanya lolos dari sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat yang telah menghantam ekonomi Rusia.
Daftar Perusahaan yang Hentikan Operasi dan Hengkang dari Rusia, Apple hingga IKEA
Banyak perusahaan Amerika, Eropa, dan Jepang telah meninggalkan usaha patungan, pabrik, toko, kantor, dan aset lainnya dalam dua minggu terakhir sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina. Mereka bergabung dengan Goldman Sachs dan JPMorgan, bank-bank besar Barat pertama yang mengumumkan akan keluar dari Rusia sepenuhnya sejak konflik meletus pada Februari lalu.
Sementara Putin mendukung rencana untuk memperkenalkan manajemen eksternal perusahaan asing yang meninggalkan Rusia.
Rusia Balas Sanksi Barat, Bakal Sita Aset Warga Asing di Negaranya
"Kita perlu bertindak tegas dengan (perusahaan) yang akan menutup produksi mereka. Perlu untuk memperkenalkan manajemen eksternal dan kemudian mentransfer perusahaan-perusahaan ini kepada mereka yang ingin bekerja," ujar Putin.
Organisasi hak-hak konsumen Rusia telah menyusun daftar perusahaan yang telah memutuskan untuk pergi dan dapat dinasionalisasi. Potanin mengatakan, tidak terlalu bijaksana untuk berbicara tentang menasionalisasi aset Barat, tetapi proposal Kremlin dapat memungkinkan pemilik untuk menjaga properti, dan perusahaan untuk menghindari kehancuran, terus memproduksi produk dan menggaji kepada karyawan.
"Saya mengerti mengingat pembatasan ekonomi yang ditujukan terhadap Rusia, mungkin ada keinginan yang dapat dimengerti untuk bertindak secara simetris. Tetapi pada contoh negara-negara Barat, kita melihat ekonomi negara-negara ini menderita karena pengenaan sanksi terhadap Rusia. Kita harus lebih bijaksana dan menghindari skenario di mana sanksi pembalasan menimpa diri kita sendiri," tulisnya.
Dia juga meminta Rusia untuk melonggarkan pembatasan mata uang asing sehingga bunga dapat dibayarkan atas obligasi dan pinjaman asing. Jika tidak, ada risiko negara itu bisa gagal membayar seluruh utang luar negerinya, yang diperkirakannya sekitar 480 miliar dolar AS.
Editor: Jujuk Ernawati