Penjualan Kian Merosot, H&M Tutup 250 Toko di Seluruh Dunia

Djairan ยท Kamis, 01 Oktober 2020 - 23:59 WIB
Penjualan Kian Merosot, H&M Tutup 250 Toko di Seluruh Dunia

Perusahaan raksasa ritel pakaian asal Swedia H&M mengatakan telah mengakhiri hubungan dengan produsen benang di China. (Foto: Bloomberg)

STOCKHOLM, iNews.id - Perusahaan raksasa ritel pakaian asal Swedia H&M berencana menutup sekitar 250 toko di seluruh dunia. Penutupan akan dilakukan tahun depan karena penjualan yang terus merosot akibat Covid-19, serta pembeli yang lebih banyak berbelanja secara online.

Pengecer pakaian terbesar kedua di dunia itu mengatakan, sekitar seperempat dari 5.000 tokonya akan dinegosiasikan ulang atau keluar dari sewa pada 2021, dan akan menutup sebagian di antaranya. Meskipun penjualan mulai pulih pada bulan September, namun masih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama di 2019.

Penjualan H&M pada kuartal III 2020 turun 16 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 50,8 miliar krona Swedia (Rp84,1 triliun). Sedangkan laba turun menjadi 1,8 miliar krona Swedia dari 3,8 miliar tahun sebelumnya. Itu karena 900 tokonya telah ditutup sejak awal 2020 hingga akhir Agustus, karena berbagai negara memberlakukan lockdown selama pandemi Covid-19.

“Meskipun tantangan masih jauh dari kata selesai, kami percaya bahwa kami dapat melewati masa-masa sulit ini, dan kami berada pada posisi yang tepat untuk keluar dari krisis dan menjadi lebih kuat,” ujar CEO H&M, Helena Helmersson dikutip dari Financial Times Kamis (1/10/2020).

Grafik mulai terlihat membaik di bulan September, meskipun 166 tokonya masih harus ditutup dengan penjualan masih lebih rendah 5 persen dari tahun sebelumnya. Namun, itu telah mengalahkan perkiraan laba kuartalan yang diprediksi turun lebih parah akibat pandemi Covid-19.

Berbagai kebijakan baru terpaksa dilakukan, seperti memangkas jumlah karyawan dan membuka lebih sedikit toko baru dari yang direncanakan, juga menutup toko lain secara permanen untuk penghematan. H&M baru-baru ini juga telah mengakhiri hubungan dengan produsen benang di China, karena adanya dugaan kerja paksa yang melibatkan penduduk minoritas dari provinsi Xinjiang, China.  

Editor : Ranto Rajagukguk