Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Viral Emak-Emak Berburu Daging Jelang Lebaran 2026, Harga Rp160 Ribu Sekilo Jadi Rebutan!
Advertisement . Scroll to see content

Penyebab Harga Sapi di Indonesia Bergejolak

Kamis, 10 Juni 2021 - 11:20:00 WIB
Penyebab Harga Sapi di Indonesia Bergejolak
Pedagang daging sapi
Advertisement . Scroll to see content

BANDUNG, iNews.id - Harga sapi di Indonesia diperkirakan akan terus bergejolak, terutama menjelang Idul Fitri maupun Idul Adha. Salah satu penyebab harga daging sapi bergejolak karena belum stabilnya sistem peternakan di Indonesia.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi politik Indonesia (AEPI) Khudori berpendapat, pemerintah Indonesia harusnya sudah mulai memikirkan sistem perdagangan dan peternakan sapi di dalam negeri. Dengan begitu, supply dan demand sapi tak selalu mengikuti hukum pasar.

"Sebenarnya, swasembada sapi telah direncanakan sejak jauh hari, namun sampai sejauh ini, tidak ada perkembangan baik. Bahkan, kita lihat kuota impor terus naik," katanya dalam webinar Rantai Pasokan Sapi Menjelang Idul Adha.

Akibat belum stabilnya sistem peternakan, Indonesia mengandalkan impor. Kuota impor sapi hampir sama atau stabil setiap tahunnya. Misalnya pada 2018 lalu, 60,5 persen sapi dipenuhi dari dalam negeri, 39 persen impor. Pada 2019 juga tidak jauh beda, sekitar 62 persen dalam negeri, sisanya impor.

"Memang yang jadi soal kebutuhan daging dalam negeri hanya dipenuhi dari peternak kecil rumah tangga. Sementara mereka menjual ketika butuh saja. Ini yang menyebabkan terjadinya gejolak harga karena mereka tidak bisa memenuhi naiknya permintaan pasar," ujarnya.

Harga sapi akan makin mahal saat tidak bisa memenuhi dengan cara impor. Misalnya, Indonesia hanya mengandalkan Australia, tapi populasi sapi di sana turun akibat banjir dan kebakaran. 

"Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi daging sapi di Indonesia 6,4 persen. Sementara pertumbuhan produksi hanya 1,3 persen, jadi konsumsi dan produksi akan semakin melebar. Ini akan terus terjadi," imbuh dia. 

Sementara Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia Budiono mengatakan, salah satu yang menimbulkan gejolak harga adalah permintaan sapi saat Idul Adha. Menurut dia, permintaan sapi hidup pada Idul Adha akan sulit dibendung karena masyarakat membutuhkan sapi untuk hewan kurban. Berbeda dengan Idul Fitri, pemerintah bisa melakukan impor dalam bentuk daging beku, atau daging kerbau. 

Akibat tidak seimbangnya supply dan demand, salah satu yang dikhawatirkan adalah dijualnya sapi betina produktif. Misalnya di Jawa Timur, populasi sapi betina produktif tinggal 50 persen. Hal itu tak lepas dari adanya pedagang yang mengambil untung sesaat.

"Payahnya lagi, semua sapi yang masuk ke Jakarta, semua dipotong. Tapi memang, di sisi lain tak ada industri yang bisa penuhi sapi. Bahkan daerah lain luar Jawa juga ambil sapi dari Jawa. Mestinya pemerintah ada solusi," imbuh dia. 

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut