Pesawat N219 Jenis Amphibi Produksi PTDI Ditargetkan Terbang Perdana 2030
JAKARTA, iNews.id - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sedangkan mengembangkan pesawat N219, dengan memproduksi N219 jenis amphibi (N219A). Bila sesuai dengan linimasa, pesawat ini dapat melaksanakan penerbangan pertamanya pada 2023.
Pesawat komersial ini bisa melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air. Pesawat memiliki kecepatan hingga 296 kilometer (km) per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki.
Dengan beban 1.560 kilogram (kg), pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km. Take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter. Sedangkan dari air, pesawat membutuhkan jarak hingga 1.400 meter.
Untuk landing dari ketinggian 50 kaki membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat. Sedangkan di laut membutuhkan jarak 760 meter.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Ayodhia G L Kalake menyatakan, pesawat tersebut telah diproduksi dengan mengedepankan TKDN, sehingga hasil karya PT Dirgantara Indonesia (Persero) akan mendukung pengembangan konektivitas darat dan laut di Indonesia.
"Tentunya, pesawat ini begitu sesuai dengan karakteristik Nusantara sebagai negara kepulauan. Kemenko Marves sangat mendorong pengembangan pesawat N219 Amphibi ini karena kegunaaan sangat diperlukan bagi negara kepulauan seperti Indonesia," kata Ayodhia, Sabtu (13/11/2021).
Fleksibilitas yang dimiliki pesawat N219 mampu mencakup darat, danau, sungai besar, hingga teluk dan laut. Selain itu, amphiport atau airport untuk pesawat amphibi dapat dibangun dengan lebih mudah dan murah dibandingkan dengan airport pada umumnya.
Pesawat pun mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, perusahaan minyak dan gas, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah Maritim.
Pemerintah menargetkan N219 jenis amphibi akan dioperasikan di sejumlah daerah di Indonesia. Misalnya, Danau Toba di Sumatera, Pulau Bawah Kepulauan Riau, Pulau Derawan Kalimantan Timur, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo. Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik.
Editor: Jujuk Ernawati