Profil Bahlil Lahadalia, Eks Sopir Angkot yang Kini Ditunjuk Menteri Investasi

Taufik Fajar, Suparjo Ramalan ยท Rabu, 28 April 2021 - 10:52:00 WIB
Profil Bahlil Lahadalia, Eks Sopir Angkot yang Kini Ditunjuk Menteri Investasi
Bahlil Lahadalia menjadi satu dari empat pejabat negara yang dilantik oleh Presiden Jokowi sore ini. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Perubahan nomenklatur Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjadi Kementerian Investasi tak menggoyahkan posisi Bahlil Lahadalia. Dia bakal dilantik sebagai Menteri Investasi sore ini.

Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono menyebut, Bahlil menjadi satu dari empat pejabat negara yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo.

"Hanya empat orang saja, tidak ada tambahan," katanya, Rabu (28/4/2021).

Bahlil sejak awal digadang-gadang bakal memimpin kementerian baru yang fokus menarik dan mengawal investasi tersebut. Namun, dua hari sebelum dilantik, dia enggan berkomentar karena di luar kapasitasnya sebagai Kepala BKPM.

Saya ini pembantu presiden, jadi urusan yang kebijakan Bapak Presiden mohon maaf dengan segala hormat, kami bukan pada posisi menjelaskan karena bukan domain BKPM," katanya.

Bahlil merupakan menteri Jokowi yang berlatar belakang pengusaha. Bakat dagangnya sudah terlihat sejak kecil. Saat masih duduk di bangku SD, dia sudah membantu ibunya berjualan kue.

Sebagai salah satu anak tertua dari delapan bersaudara, Bahlil kecil harus mengais rezeki untuk membantu ekonomi keluarga. Saat beranjak remaja, berbagai pekerjaan serabutan dilakoni pria asal Maluku itu mulai dari berjualan ikan di pasar hingga menjadi kondektur dan sopir angkot.

Nekat ke Jayapura, Bahlil terus mencari uang demi membiayai kuliahnya. Dia mengaku kehidupannya saat itu sangat keras. Apapun dikerjakannya, termasuk berjualan koran.

Dihimpit kemiskinan, Bahlil menyebut menjadi pengusaha bisa menjadi jalan keluar. Dia sempat bekerja selama satu tahun di perusahaan konsultan IT di Papua. Dia memutuskan untuk berkembang meski sudah dapat gaji besar dan segudang fasilitas.

Kemudian, dia mendirikan perusahaan perdagangan kayu. Modalnya berasal dari gaji dan uang pesangon. Perusahaan pertama gagal. Dia bangkrut.

Memasuki tahun 2000, usahanya mulai bangkit setelah beberapa kali mencoba. Pada 2003, dia mendaftar sebagai anggota Hipmi. Bisnis Bahlil kemudian terus melambung melalui bendera PT Rifa Capital. Induk perusahaan ini memiliki 10 anak usaha yang tersebar di berbagai sektor mulai dari tambang hingga konstruksi.

Editor : Rahmat Fiansyah

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: