Seruan Boikot Produk China di India Menguat, Xiaomi Sebut Tak Berpengaruh

Djairan ยท Jumat, 26 Juni 2020 - 10:01 WIB
Seruan Boikot Produk China di India Menguat, Xiaomi Sebut Tak Berpengaruh

Ponsel Xiaomi. (Foto: CNN)

NEW DELHI, iNews.id - Ketegangan politik antara India dan China memicu sentimen anti China di India. Belakangan, muncul seruan boikot produk-produk China, termasuk Xiaomi.

Dilansir CNBC, Jumat (26/6/2020), Managing Director Xiaomi India, Manu Kumar Jain mengatakan, sentimen anti-China tak memengaruhi bisnis mereka di India. Xiaomi, kata dia, membangun bisnis dengan kearifan lokal yang kuat di India.

"Tim produksi dan R&D kami ada di sini, di India. Seluruh produksi ponsel, sebagian besar TV kami buatan India, sebagian besar komponen sudah dilokalkan, manajemen di India. Sampai saat ini, kami tidak melihat dampak yang terlalu besar pada bisnis kami dari sisi penjualan atau permintaan," kata Jain.

Xiaomi merupakan pemimpin pasar smartphone di India dengan pangsa pasar hingga 30 persen. Selain Samsung, ponsel bermerek China saat ini merajai posisi lima besar di India.

Hubungan India dan China memanas dalam beberapa minggu terakhir usai terjadi baku tembak di perbatasan kedua negara yang membuat 20 tentara India tewas. Upaya diplomatik dilakukan kedua pemimpin negara.

Namun, sentimen anti China pada masyarakat India tetap menguat. Xiaomi dilaporkan menutup logo pada toko-toko ritel mereka dengan tulisan 'Made in India'. Selain itu, pegawai toko tidak diizinkan menggunakan seragam yang menunjukkan merek Xiaomi.

Jain mengakui ada 'keributan' di media sosial terkait hal tersebut. Namun, dia kembali menegaskan sentimen itu tak memengaruhi penjualan Xiaomi.

Dia juga memastikan Xiaomi tak terpengaruh dengan rencana pemerintah India yang menaikkan tarif impor barang dari China. Alasannya, hampir 100 persen ponsel Xiaomi di India diproduksi di dalam negeri.

"Dan, bukan hanya ponsel, 65 persen dari komponen sudah dilokalkan atau diproduksi secara lokal. Jadi, kalau Anda lihat jumlah komponen yang kami beli dari luar (India), jumlahnya sangat kecil," ujar Jain.

Editor : Rahmat Fiansyah