Sosok Ferry Unardi, Berhenti Kuliah S2 di Harvard untuk Bangun Traveloka
Tak lama kemudian, Ferry melihat peluang bisnis yang lain. Ternyata, masyarakat tidak hanya ingin membandingkan harga tiket saja, melainkan juga ingin melakukan pemesanan tiket secara online sehingga bersifat fleksibel.
Setahun kemudian, Ferry mantap untuk mengubah Traveloka menjadi situs pemesanan tiket pesawat. Meskipun inovasinya terlihat cemerlang, bukan berarti Traveloka tumbuh secara mudah.
Pada awal pendiriannya, Ferry harus bisa mempertahankan Traveloka dengan hanya memiliki delapan orang karyawan. Tak hanya itu, tidak sedikit maskapai penerbangan yang menolak kerja sama dengan Traveloka.
Namun Ferry memutuskan untuk tidak menyerah. Dia meyakinkan bahwa mereka juga harus adaptif dengan perkembangan teknologi baru pemesanan tiket. Pada akhirnya, usaha tersebut tidak sia-sia.
Selain banyak maskapai penerbangan yang bergabung, Traveloka juga mendapat pendanaan dari perusahaan venture capital, East Ventures pada tahun 2012 dan Global Founders Capital pada tahun 2013.
Bersama kedua rekannya, dia berhasil membangun dan mengembangkan perusahaannya hingga menjadi startup bertitel unicorn pada 2017.
Nilai valuasi perusahaan penyedia layanan pemesanan transportasi dan gaya hidup itu kini mencapai 3 miliar dolar AS. Tentu saja kemajuan Traveloka berdampak pada nilai kekayaan Ferry. Diketahui, Ferry memiliki harta kekayaan mencapai Rp2,09 triliun.
Selain termasuk dalam daftar 30 Under 30 untuk kategori Retail & E-Commerce versi Forbes, Ferry juga menjadi satu dari 150 orang dalam daftar orang terkaya di Indonesia menurut Globe Asia yang dirilis tahun 2018.
Editor: Aditya Pratama