Subsidi Energi Rp502 Triliun Bisa untuk Bangun 227.887 Sekolah Dasar

Mochamad Rizky Fauzan ยท Jumat, 26 Agustus 2022 - 19:18:00 WIB
Subsidi Energi Rp502 Triliun Bisa untuk Bangun 227.887 Sekolah Dasar
Atap Sekolah Dasar yang hilang dan dibongkar pencuri. (Foto: Antara/HO-Dinas Pendidikan Pemkot Padangsidimpuan)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan subsidi energi sebesar Rp502,4 triliun jika tidak dipakai untuk membiayai BBM dan listrik, dapat digunakan untuk membangun 227.886 sekolah dasar (SD).

Dia menjelaskan, subsidi energi yang bernilai jumbo itu setara dengan biaya pembangunan 227.886 SD, dengan anggaran Rp2,19 miliar per SD, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki SD. 

Selain itu, anggaran subsidi energi itu bisa juga digunakan untuk menuntaskan seluruh proyek tol Trans Sumatera, atau pembangunan 41.666 Puskemas, atau membangun 3.333 rumah sakit di seluruh Indonesia.  

"Ini hanya memberikan sense of magnitude bahwa angka ini sangat besar dan sangat real, dan ini tidak cukup, akan terus bertambah lagi," kata Sri Mulyani, dalam jumpa pers, di Jakarta, Jumat (26/8/2022).

Mantan petinggi World Bank itu membeberkan dana Rp502 triliun di dalam APBN juga setara dengan pembangunan 3.501 ruas tol baru dengan biaya Rp142,8 miliar per kilometer atau setara pula dengan penyelesaian seluruh Tol di Sumatera yang belum tersambung secara penuh.

Kemudian, dana subsidi energi itu juga setara dengan pembangunan 41.666 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dengan biaya Rp12 miliar per unit, khususnya untuk di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) yang tidak menikmati subsidi Rp502 triliun.

Dia mengungkapkan perkiraan belanja subsidi dan kompensasi BBM akan melebar Rp195,6 triliun pada tahun ini menjadi Rp698 triliun, yang disebabkan tren harga minyak dan jumlah volume konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat hingga nilai tukar rupiah.

Adapun harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) meningkat dari 100 dolar AS per barel menjadi 105 dolar AS per barel dan kurs rupiah naik dari Rp14.450 per dolar AS menjadi Rp14.700 per dolar AS.

Volume konsumsi pertalite juga diperkirakan Bendahara Negara naik 126 persen dari kuota 23,05 juta kiloliter menjadi 29,07 juta kiloliter dan solar kemungkinan meningkat 115 persen dari kuota 15,1 juta kiloliter menjadi 17,44 juta kiloliter pada akhir tahun ini.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda