Tak Kalah dari Laki-Laki, Ini 10 Perempuan yang Sukses Jadi CEO
NEW YORK, iNews.id - Perjuangan perempuan menuntut kesetaraan gender membuahkan hasil. Kini, makin banyak perempuan yang menjadi pimpinan perusahaan.
Dari 500 perusahaan yang masuk daftar Fortune 500, ada 33 perusahaan yang jabatan CEO-nya diisi oleh perempuan. Meski hanya 6,6 persen, namun jumlahnya meningkat setiap tahun.
Dikutip dari Market Watch, Minggu (22/9/2019), terdapat perubahan dramatis dalam dunia korporasi Amerika. Saat ini, penunjukkan CEO baru perempuan mencapai 22 persen sepanjang semester I-2019.
Dari perombakan 607 CEO pada enam bulan pertama tahun ini, 131 di antaranya adalah perempuan. Jumlah tersebut meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kehadiran perempuan sebagai CEO tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, mereka kini menduduki kursi nomor satu perusahaan-perusahaan raksasa. Berikut 5 perempuan yang menjabat sebagai CEO.
1. Mary Barra, CEO General Motors

15 Januari 2014 menjadi momen bersejarah bagi Mary Teresa Barra. Dia menjadi perempuan pertama yang menjadi CEO sejak General Motors (GM) berdiri 111 tahun silam.
Sebelum menggantikan Dan Akerson sebagai CEO, Barra merintis kariernya dari bawah. Sebelum bekerja di GM pada usia 18 tahun, dia bersekolah di General Motors Institute yang kini berubah nama menjadi Kettering University.
2. Ginni Rometty, CEO IBM

Perempuan bernama lengkap Virginia Marie Rometty ini ditunjuk menjadi CEO IBM pada Januari 2012. Sama seperti Barra, Rometty berkarier dari bawah sebagai engineer pada 1981.
Rometty cukup sukses dalam memimpin perusahaan raksasa IT tersebut. Perempuan berusia 62 tahun itu diganjar segudang penghargaan dari Bloomberg, Forbes, Time, dan Fortunes karena masuk daftar "Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia", baik di dunia bisnis maupun teknologi
3. Marillyn Hewson, CEO Lockheed Martin

Siapa sangka produsen senjata yang merupakan pemasok utama Pentagon saat ini dipimpin seorang perempuan? Dia adalah Marillyn Adams Hewson, perempuan asal Kansas, AS.
Sejak ditunjuk menjadi CEO Lockheed Martin pada 2013, kapitalisasi market perusahaan itu tumbuh hingga dua kali lipat. Hewson merintis kariernya di Lockheed pada 1983 dan menduduki sejumlah posisi sebelum diangkat menjadi orang nomor satu Lockheed.
4. Corrie Barry, CEO Best Buy

Corie Barry telah berkarier di Best Buy, perusahaan ritel raksasa asal AS, selama lebih dari 20 tahun. Dia belum lama ini ditunjuk menjadi CEO, tepatnya pada 19 Juni 2019.
Barry memikul tanggung jawab yang cukup berat karena menggantikan Hubert Joly yang sukses mengubah Best Buy dari pesakitan. Kini, dia harus memastikan transisi berjalan dengan baik dengan kendali lebih dari 1.000 toko dan 140 ribu karyawan di tangannya.
5. Safta Catz, CEO Oracle

Perempuan imigran dari Israel ini sukses merinties karier di Oracle, perusahaan raksasa IT yang berbasis di California, AS. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Larry Ellison, Pendiri Oracle.
Saat Ellison mengundurkan diri sebagai CEO pada September 2014, Catz hingga saat ini berbagi peran bersama Mark Hurd sebagai CEO. Lulusan akuntansi ini bergabung dengan Oracle pada 1999 sebelum akhirnya ditunjuk menjadi CEO dengan gaji puluhan juta dolar AS per tahun.
6. Michelle Gass, CEO Kohl's

Michelle D. Gass baru setahun ditunjuk sebagai CEO Kohl's Corp, perusahaan ritel di AS. Dia sebenarnya baru bergabung dengan Kohl's pada tahun 2013. Artinya, hanya butuh waktu lima tahun baginya untuk menjadi bos Kohl's.
Sebelumnya, dia merupakan profesional yang bekerja cukup lama di Starbucks, terutama sebagai Kepala Regional Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Saat bergabung dengan Kohl, perempuan berusia 50 tahun itu langsung ditunjuk menjadi Chief Merchandising & Costumer Officer.
7. Vicki Hollub, CEO Occidental Petroleum

Tak hanya berkarier di kantor, ada juga CEO perempuan yang berkiprah di industri migas. Perempuan itu adalah Vicki Hollub yang ditunjuk menjadi Presiden & CEO Occidental Petroleum.
Hollub merupakan lulusan teknik mineral Universitas Alabama. Dia memulai kariernya sebagai engineer rig minyak pada 1981 di Cities Service sebelum diakuisisi Occidental. Kini, dia menjadi perempuan pertama yang menjadi CEO Occidental.
8. Anna Manning, CEO Reinsurance Group of America

Anna Maning sudah malang melintang di dunia asuransi. Lulusan jurusan Aktuaria Universitas Toronto tersebut berkarier selama 19 tahun di perusahaan konsultan sebelum bergabung dengan Reinsurance Group of America (RGA) pada 2007.
Kariernya melesat. Pada 2015, dia ditunjuk menjadi Presiden RGA dan dua tahun kemudian menjabat sebagai CEO. RGA adalah salah satu perusahaan asuransi terbesar di AS dengan nilai aset mencapai 64,5 miliar dolar AS.
9. Joey Wat, CEO Yum China

Perempuan berusia 47 tahun itu lahir di Provinsi Fujian, China sebelum bermigrasi ke Hong Kong saat usia muda. Kini, dia merupakan bos jaringan restoran terbesar di China, Yum China.
Baru didirikan pada 2016, Yum China membawahi sejumlah merek ternama seperti KFC, Pizza Hut, dan Taco Bell. Merintis karier sebagai konsultan di A.T Kearnye dan McKinsey & Co, Wat banting setir ke industri ritel dengan bergabung ke Watson Group pada 2004 sebelum akhirnya berlabuh ke Yum China pada 2014.
10. Lisa Su, CEO AMD

Nama Lisa Su cukup tenar di dunia IT. Lulusan MIT ini telah lama berkiprah di IBM sejak tahun 1994 sebagai staf riset. Di IBM, Su mengembangkan banyak teknologi yang disuplai untuk Sony dan Toshiba.
Pada 2012, dia bergabung dengan Advance Micro Devices (AMD) sebelum ditunjuk menjadi CEO pada Oktober 2014 untuk menggantikan Rory Read. Su memainkan peran penting mendiversifikasi bisnis AMD di luar pasar PC, termasuk menyematkan chip ke Xbox (Microsoft) dan PS4 (Sony).
Editor: Rahmat Fiansyah