Kembali Pimpin China, Xi Jinping Diprediksi Dorong Perbaikan Ekonomi

Ranto Rajagukguk ยท Jumat, 27 Oktober 2017 - 11:42:00 WIB
Kembali Pimpin China, Xi Jinping Diprediksi Dorong Perbaikan Ekonomi
Presiden China Xi Jinping (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Konsolidasi lebih lanjut kekuasaan di China di bawah Presiden Xi Jinping dapat membantu negara tersebut mencapai tujuan penyeimbangan dan reformasi ekonominya, Moody's mengatakan dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada hari Jumat.

Perekonomian terbesar kedua di dunia itu mengumumkan jajaran kepemimpinan baru pada hari Rabu setelah selama sepekan lakukan pertemuan tertutup dan pemilihan internal. Melalui jajaran itu, dapat terlihat Xi sekali lagi di puncak partai penguasa negara tersebut. Ini menunjukkan bahwa Xi tidak menyerahkan wewenangnya kapan pun secara segera.

"Kami percaya bahwa konsolidasi ini dapat meningkatkan penyelarasan insentif antara pimpinan pusat dan pejabat lainnya, dan dengan demikian dapat memajukan proses reformasi ekonomi dan penyeimbangan kembali," kata Moody's Investors Service dalam laporan tersebut, seperti mengutip CNBC, Jumat (27/10/2017).

Pengamat pasar telah lama khawatir tentang pertumbuhan kebutuhan bahan bakar minyak, kelebihan kapasitas industri, dan arus keluar modal yang mungkin bisa memacu krisis ekonomi global.

Beberapa investor berharap Xi yang kuat dapat mendorong reformasi ekonomi dan keuangan yang berani sehingga mencegah ekonomi dari keterpurukan. Pasalnya, upaya yang sedang berlangsung untuk perubahan besar telah terhambat oleh kekhawatiran tentang stabilitas sosial dan konflik kepentingan.

Kongres Partai Komunis baru-baru ini juga melihat nama Xi ditambahkan ke dalam konstitusi partai, membuatnya hanya menjadi pemimpin kedua di kantor yang mendapat kehormatan itu. Akibatnya, siapa pun yang sekarang mempertanyakan otoritas Xi meragukan keseluruhan bangunan Partai Komunis.

"Saya masih belum jelas apakah peningkatan sentralisasi wewenang akan menghasilkan percepatan laju reformasi atau kelanjutan pelaksanaan bertahap dari liberalisasi ekonomi, yang menyeimbangkan tujuan kebijakan lainnya seperti mempertahankan pertumbuhan yang relatif kuat dan peran yang kuat dari perusahaan milik negara diamati dalam beberapa tahun terakhir," kata Michael Taylor, chief credit officer Moody untuk Asia Pasifik, menurut sebuah rilis.

Sementara Moody's tengah mempertanyakan langkah reformasi yang akan dilakukan apakah bisa meningkat atau hanya menstabilak ekonomi. Sebab, ada keraguan soal keseriusan Beijing mengubah ekonomi, mengingat ada biaya sosial jangka pendek yang akan dikaitkan dengan liberalisasi pasar yang didominasi negara.

Moody's Investors Service pada Mei menurunkan peringkat kredit China ke A1 dari Aa3, mengubah proyeksi menjadi stabil dari negatif, dengan alasan kekhawatiran bahwa upaya untuk mendukung pertumbuhan akan memacu lebih banyak utang.

Namun lembaga pemeringkat masih memiliki hal positif untuk dikatakan kepada raksasa Asia Timur itu, karena China kemungkinan akan mencapai targetnya untuk melipatgandakan pendapatan per kapita dari levelnya di tahun 2010 pada tahun 2020. Ini akan memberikan ruang kepada pemerintah untuk fokus mencapai tujuan lain seperti pertumbuhan berkelanjutan dan mengurangi ketidaksetaraan ekonomi, Moody's mengatakan.

"Secara khusus, kami mengharapkan fokus yang lebih besar pada kualitas pertumbuhan untuk menghasilkan penekanan yang lebih besar dalam mempromosikan produktivitas, mengurangi dampak negatif dari pertumbuhan lingkungan dan mengurangi kerentanan finansial," ujarnya dalam laporan yang dipublikasikan pada hari Jumat.

Rumah analisis telah melihat beberapa keberhasilan dalam memperlambat laju pertumbuhan pinjaman. "Kami berharap pemerintah dapat terus mendorongnya untuk memasukkan pengaruh melalui reformasi struktural dan mengandung risiko keuangan, kecuali pertumbuhan PDB melambat secara substansial," kata Moody's.

Editor : Ranto Rajagukguk

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda