Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BI Singgung Pembentukan Mata Uang Digital untuk Awasi Risiko Kripto 
Advertisement . Scroll to see content

Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Pengamat: BI Rate Harus Tetap Rendah

Kamis, 18 November 2021 - 14:11:00 WIB
Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Pengamat: BI Rate Harus Tetap Rendah
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

MEDAN, iNews.id - Bank Indonesia (BI) diminta tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) yang rendah untuk mengantisipasi gelombang ketiga Covid-19 yang mulai merebak di Eropa dan Amerika Serikat (AS). 

Pekan ini Bank Indonesia (BI) akan kembali menggelar rapat dewan gubernur, yang salah satu outputnya adalah penetapan BI Rate (BI 7 Days Repo Rate/BI 7 DRR). 

Menurut pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, saat ini BI Rate berada di level 3,5 persen, yang merupakan level terendah sepanjang sejarah besaran suku bunga acuan di tanah air. 

Tetapi besaran BI Rate tersebut, elakangan tidak membuat laju pertumbuhan ekonomi naik. Yang ada justru pertumbuhan ekonomi sempat masuk ke jurang resesi, dan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,5 persen di kuartal III 2021. 

Dia menjelaskan, pada dasarnya di saat bunga turun seharusnya pertumbuhan ekonomi bisa digenjot. Baik di atas kertas maupun di tatanan prakteknya. Tetapi fakta berbicara lain, Covid-19 telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian sehingga upaya mendongkrak pertumbuhan dengan penurunan bunga acuan menjadi kurang berasa.

"Dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh Covid-19 jauh lebih besar, daripada kemampuan BI dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Tetapi jika sebelumnya BI tidak menurunkan bunga acuan, sudah bisa dipastikan kinerja ekonomi kian terperosok dan sulit untuk bangkit kembali," kata Gunawan, Kamis (18/11/2021).

Dia menyebut, tantangan ke depan adalah kekhawatiran akan ada gelombang ketiga Covid-19. Sejauh ini, data menunjukan kalau pengendalian Covid-19 di tanah air sangat terkendali. Namun negara lain memang sudah ada yang mengalami gelombang ketiga atau bahkan ada yang tengah berjibaku dengan gelombang keempat Covid-19.

"Sekalipun kita belum menuju ke gelombang selanjutnya, tetapi bersikap waspada dan antisipatif memang dibutuhkan. Walaupun skenario buruknya harus kita siapkan mitigasinya sejak dini. Jika dikaitkan dengan upaya BI yang tetap melakukan kebijakan moneter longgar (bunga murah). Maka resikonya muncul manakala di tahun depan AS justru menaikkan suku bunga acuannya," ujar Gunawan. 

Dia mengungkapkan, inflasi di AS mencatatkan angka 6,2 persen secara tahunan (YoY). Sementara suku bunga acuannya masih bertahan dalam rentang 0 hingga 0,25 persen. Dengan data-data seperti itu, menaikkan bunga acuan bagi Bank Sentral AS atau The Federal reserve (The Fed) hanyalah perkara waktu semata. Kemungkinan tahun depan suku bunga The Fed akan dinaikkan. 

"Disitulah tantangan BI selanjutnya. Jika dihadapkan dengan dua skenario buruk, yakni kenaikan suku bunga The Fed dan gelombang ketiga Covid-19 di tanah air, maka BI dituntut membuat kebijakan ekstra sulit dan ekstra hati hati tentunya. Saya yakin BI akan habis-habisan mendorong pertumbuhan ekonomi, oleh karena itu pengendalian Covid-19 jadi kuncinya," tutur Gunawan. 

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut