Dibayangi Kasus Covid-19, IHSG Pekan Depan Berpotensi Terkoreksi

Aditya Pratama ยท Minggu, 05 Juli 2020 - 21:42 WIB
Dibayangi Kasus Covid-19, IHSG Pekan Depan Berpotensi Terkoreksi

IHSG pekan depan akan terkoreksi. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan depan berpotensi terkoreksi. Hal ini dibayangi kekhawatiran terus meningkatnya kasus baru Covid-19.

"IHSG kami perkirakan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 4.885 sampai 4.712 dan resistance di level 5.000 sampai 5.139," kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee di Jakarta, Minggu (5/7/2020).

Menurut Hans, IHSG pekan depan akan dipengaruhi sejumlah sentimen yaitu indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq yang menutup kuartal kedua 2020 dengan penguatan dan termasuk rekor kenaikan tertinggi. Hal itu terjadi ditengah pandemi Covid-19 yang masih terus naik.

Sentimen lainnya, terdapat perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) seiring pelonggaran lockdown yang dilakukan.

"Namun pelaku pasar mulai khawatir kenaikan kasus virus Corona baru di AS dapat menghapus kenaikan lapangan kerja pada musim panas ini," ujar Hans.

Hans menuturkan, lonjakan kasus Covid-19 membayangi pembukaan ekonomi. Pelaku pasar perlu memerhatikan pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahwa yang terburuk belum datang dalam kasus pandemi Covid-19.

Beberapa Negara bagian AS menunda pembukaan ekonomi akibat kenaikan kasus Covid-19 yang meningkat dan menimbulkan kekhawatiran gangguan ekonomi. Sementara itu, perkembangan vaksin Covid-19 akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Pelaku pasar juga akan memerhatikan potensi perang dagang AS dan China. Hal ini menyusul lebih dari 75 anggota Kongres AS yang mengirim surat mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil keputusan resmi terhadap China akibat kekejaman yang terjadi atas kaum Muslim Uighur.

"Langkah Trump dan respons pemerintah China akan mempengaruhi pergerakan pasar," kata Hans.

Di sisi lain, aktivitas bisnis China membaik terutama akibat permintaan dalam negeri yang membaik di tengah permintaan luar negeri yang lemah. Hal tersebut juga menjadi sentimen positif pasar. Dari domestik, pasar Indonesia diwarnai sentimen positif data ekonomi. Namun, perpanjangan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, sebenarnya menjadi indikasi bahwa Indonesia belum mampu memenuhi aturan WHO untuk pelonggaran seperti di negara lain. Masalah kesehatan dinilai menjadi kendala utama ekonomi Indonesia.

Editor : Ranto Rajagukguk