Dolar AS Melemah terhadap Euro, Ini Faktor Pendorongnya

Antara ยท Rabu, 20 Mei 2020 - 08:15 WIB
Dolar AS Melemah terhadap Euro, Ini Faktor Pendorongnya

Kurs dolar AS melemah terhadap euro pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2020) pagi WIB, didorong proposal Prancis-Jerman terkait dana hibah untuk wilayah Uni Eropa. (Foto: Sindo)

NEW YORK, iNews.id - Kurs dolar AS melemah terhadap euro pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2020) pagi WIB. Kondisi ini didorong proposal Prancis-Jerman terkait dana hibah untuk wilayah Uni Eropa dan sektor-sektor paling terpukul pandemi virus corona (Covid-19).

Hasil menggembirakan dari uji coba vaksin untuk Covid-19 turut mengurangi permintaan mata uang safe haven dan greenback naik ke dekat level tertinggi satu bulan terhadap yen Jepang.

Jerman dan Prancis dalam perjanjiannya membuka jalan untuk kesepakatan UE yang lebih luas, mengusulkan agar Komisi Eropa meminjam 500 miliar euro (550 miliar dolar AS) atas nama seluruh UE. Komisi diharapkan menguraikan proposal mereka sebelum pertemuan puncak Eropa pada 27 Mei.

Euro menguat 0,08 persen terhadap greenback pada 1,09235 dolar, menambah kenaikan selama dua hari menjadi sekitar 1 persen.

"Usulan Prancis-Jerman merupakan langkah maju yang material menuju pemanfaatan kapasitas fiskal bersama untuk memberikan stimulus fiskal berkelanjutan guna mendukung pemulihan ekonomi," kata Lee Hardman, analis mata uang MUFG.

Mata uang bersama itu juga didukung survei yang menunjukkan sentimen investor Jerman meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Mei, karena kekhawatiran dampak pandemi virus corona terhadap ekonomi terbesar Eropa berkurang.

Greenback menemukan sedikit dukungan dari data yang menunjukkan pembangunan rumah AS yang turun paling banyak pada April.

Dolar, yang menarik aliran safe-haven ketika minat terhadap aset-aset berisiko turun, telah melemah karena investor mengambil petunjuk dari data tahap awal menggembirakan untuk vaksin virus corona potensial.

"Dolar AS adalah tempat yang aman seperti franc Swiss atau yen Jepang dan itu adalah tempat yang aman di bawah tekanan dari kemarin pagi sampai sekarang," kata Brad Bechtel, kepala valas global di Jefferies.

Pemerintah-pemerintah yang melonggarkan pembatasan juga telah membantu investor semakin optimistis ekonomi akan segera kembali normal.

Sementara dolar Australia dan dolar Selandia Baru lebih kuat di tengah kemajuan pembukaan kembali ekonomi global dan optimisme vaksin.

Untuk yen Jepang, yang cenderung menarik investor selama masa-masa tekanan geopolitik atau finansial, membuat dolar naik 0,37 persen ke level tertinggi dalam hampir sebulan terakhir.

Pound Inggris naik 0,39 persen terhadap dolar, pemulihan relatif kecil terhadap posisi terendah tujuh minggu terakhir. Pounsterling tertahan oleh risiko Brexit dan spekulasi tentang suku bunga negatif.

Editor : Dani Dahwilani