Hadir di WEF 2026, CEO BRI Beberkan Tantangan Utama Pembiayaan Berkelanjutan di Emerging Markets
Sejalan dengan pandangan tersebut, Hery menjelaskan, BRI menjalankan peran sebagai anchor bank dengan menggandeng pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta bank multilateral untuk menyalurkan blended finance ke sektor UMKM. Tanpa keberadaan bank jangkar lokal, pembiayaan berkelanjutan berisiko berhenti pada tataran konsep dan tidak mencapai sektor riil secara optimal.
Selain peran kelembagaan, digitalisasi juga disebut sebagai faktor kunci dalam mendorong skala pembiayaan berkelanjutan. Digitalisasi memungkinkan penurunan biaya pembiayaan, perluasan akses kredit, serta pengumpulan data ESG hingga ke level UMKM. Dengan dukungan teknologi digital, pembiayaan berkelanjutan tidak lagi berhenti pada proyek percontohan, melainkan berkembang menjadi sebuah sistem yang terintegrasi.
"Digitalisasi memungkinkan keberlanjutan untuk berkembang dalam skala besar, menurunkan biaya pembiayaan, memperluas akses kredit, serta memungkinkan pengumpulan data ESG hingga ke tingkat UMKM," katanya.
Sebagai bank dengan fokus utama pada segmen mikro dan UMKM, BRI menempatkan keberlanjutan bukan sebagai inisiatif terbatas, melainkan sebagai strategi mass market. Hery menegaskan, keberlanjutan telah menjadi bagian dari DNA BRI dalam membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari.
Salah satu hambatan utama pembiayaan berkelanjutan, lanjut Hery, adalah persepsi bahwa UMKM tidak bankable, berisiko tinggi, dan berimbal hasil rendah. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRI menggeser pendekatan dari pembiayaan berbasis agunan menuju data-driven trust.