IHSG Hari Ini Berpeluang Kembali ke Level 7.000, Tekanan Terhadap Saham Perbankan Mereda
JAKARTA, iNews.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Juat (22/9/2023), berpeluang kembali menembus level 7.000. Hal itu, dipicu tekanan terhadap saham perbankan yang mereda pascakeputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen.
Pada perdagangan Kamis (21/9/2023), setelah pada sesi sebelumnya tertekan 0,29 persen di 6.991. Secara teknikal indeks komposit sempat menutup gap di area 6.980, sebelum kemudian rebound. Indikator Stochastic RSI masih naik, sehingga mengindikasikan adanya penguatan lanjutan.
"Masih ada peluang kembali uji level psikologis 7.000 pada perdagangan Jumat (22/9/2023)," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (22/9/2023).
Katalis makro domestik datang dari langkah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Kebijakan ini tak berubah dalam kurun delapan bulan beruntun, sejalan dengan ekspektasi konsensus.
Kementerian Keuangan sebelumnya mencatat surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Agustus 2023 sebesar Rp147,2 triliun. Jumlah ini setara 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Tekanan terhadap saham-saham bank diredam oleh keputusan BI menahan suku bunga," papar Phintraco.
Dari luar negeri, pelaku pasar masih mencermati dampak pernyataan Gubernur bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve, Jerome Powell terkait proyeksi suku bunga di masa depan.
Powell dalam beberapa waktu terakhir menyebut bahwa perjuangan pihaknya melawan inflasi masih belum berakhir meskipun suku bunga dipertahankan pada pertemuan Rabu kemarin (20/9/2023). The Fed memproyeksikan suku bunga dapat dikerek sekali lagi ke level 5,50 persen hingga 5,75 persen.
"Dengan tingkat suku bunga seperti itu, maka kekhawatiran yang semakin meningkat adalah bahwa kita sedang berpotensi menuju resesi,” kata Analis CFRA Research, Sam Stovall, dilansir Reuters, Kamis (21/9/2023).
Proyeksi The Fed juga menitikberatkan kebijakan moneter akan tetap lebih ketat dari yang diperkirakan hingga tahun 2024. Tekanan juga datang angka pengangguran yang melandai, sehingga mmengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup panas, yang ditakutkan kembali mendongkrak inflasi.
Editor: Jeanny Aipassa