Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Update OTT KPK di Kantor Bea Cukai: 17 Orang Ditangkap
Advertisement . Scroll to see content

Ketimbang Vape, Pemerintah Bisa Kenakan Cukai ke Barang-Barang Ini

Sabtu, 27 Januari 2018 - 13:19:00 WIB
Ketimbang Vape, Pemerintah Bisa Kenakan Cukai ke Barang-Barang Ini
Diskusi Polemik MNC Trijaya degan tema "Asap vs Uap, Kebutuhan Konsumen vs Regulasi" di Warung Daun, Jakarta (Foto: iNews.id/Isna)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah mulai Juli 2018 menetapkan penarikan cukai untuk likuid rokok elektrik atau vape sebesar 57 persen. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146 Tahun 2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Saat ini cukai diberlakukan untuk tiga barang di Indonesia, yaitu alkohol, nonetil alkohol, dan hasil tembakau. Hal tersebut diberlakukan untuk memenuhi target penerimaan cukai dalam APBN 2018 sebsar Rp155 triliun.

"Cukai diberlakukan atas barang-barang yang memiliki karakter tertentu seperti konsumsinya perlu dikendalikan, barang yang perlu diawasi peredarannya, barang yang berdampak negatif, dan barang yang perlu pembebanan keutang negara," kata Kasubdit Tarif Cukai dan Harga Dasar, Direktorat Teknis dan Fasilitas Cukai, Ditjen Bea Cukai, Kemenkeu Sunaryo di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (27/1/2018).

Menurut Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, seharusnya pemerintah menetapkan cukai ke hal yang lebih penting dibandingkan produk hasil tembakau atau alkohol saja. Sebab, di negara-negara lain rata-rata menerapkan cukai ke delapan produk yang membahayakan lainnya seperti AC, kulkas, kendaraan bermotor, sampai minuman berkarbonasi atau yang mengandung gula berlebih.

"Kalau pemerintah ingin cari penerimaan cukai Rp150 triliun, pemerintah bisa lebih rajin mencarinya di produk lain selain vape. Misal AC dan kulkas, kenapa selama ini rokok, alkohol dan nonetil alkohol, kita termasuk negara yang sedikit mengenakan cukai, mari cari yang lebih jelas," ucap Bhima.

Produk-produk tersebut menurut dia lebih layak untuk dikenakan cukai karena lebih membahayakan dibanding vape yang penggunaannya masih sedikit. Menurut data dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia, saat ini likuid refill yang beredar di pasaran baru sekitar 2 juta saja.

"Minuman pemanis kan diabetes sedang diabetes itu penyumbang nomor tiga kematian di dunia. Di negara lainnya minuman pemanis seperti Eropa itu sudah basi dibahasnya. Untuk cukai, potensinya besar, kira-kira Rp400 miliar," tuturnya.

Sementara untuk kendaraan bermotor baik roda dua atau roda empat, potensinya lebih besar lagi mengingat sebagian besar masyarakat setiap orang pasti memiliki satu kendaraan bermotor. "Lima persen ke kendaraan bermotor saja, itu bisa dapat Rp6 triliun. Itu pakai total produksi nasional," kata dia.

Ia mengatakan, peraturan tentang vape ini dibuat karena pemerintah khawatir pendapatan cukainya yang biasanya besar dari rokok menjadi berkurang. Padahal, industri ini baru berkembang beberapa tahun belakangan. Dengan tersebarnya likuid vape akan dikenakan cukai membuat industri ini mati sebelum sempat berkembang.

"Vape lima sampai 10 tahun ke depan maka vape akan naik 5 sampai 10 persen, lama kelamaan akan tergerus rokok konvensional itu," ucap Bhima.

Padahal, vape ini bisa membantu para pecandu rokok berat untuk perlahan berhenti mengonsumsi rokok. Menurut Yayasan Pemerhati Kesehatan Indonesia, Amaliya, bahaya penggunaan Vape jauh lebih sedikit dibandingkan penggunaan rokok.

"Kalau rokok memberikan bahaya 100 persen kalau vape 5 persen. Itu dari penelitian dari Inggris yang neliti kandungannya. Penurunannya baik pada likuid yang dipanaskan ataupun uap yang keluar. Diteliti lagi dari ludah dan darah ada perubahan signifikan pada perokok dan vape itu turun 90 persen," ujar Ameliya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut