QRIS BRI Jadi Andalan Pembeli Bubur Ayam, No Dompet No Problem
Salah satu pedagang yang merasakan perubahan besar tersebut adalah Jalaludin, penjual bubur ayam asal Cianjur yang setiap hari mangkal di sekitar Stasiun Gondangdia. Dia kini melayani pembayaran menggunakan barcode QRIS BRI yang ditempel di gerobaknya.
KUR BRI Ubah Salad Umma Jadi Ladang Belajar Mahasiswa, Anak Kampus Turun ke Bazar
“Sudah bisa pakai QRIS di sini ini, ya QRIS BRI,” kata Jalaludin.
Setiap hari, Jalaludin mampu menjual sekitar 100 hingga 150 porsi bubur ayam seharga Rp12.000 per mangkuk. Menurut dia, transaksi digital membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi jauh lebih cepat.
Dari Jual Mobil saat Pandemi, Salad Umma Tembus Pesanan Kementerian Berkat KUR BRI
“Sekarang jadi lebih gampang kalau pakai QRIS, kan tinggal scan saya, nggak ribet. Terus juga enggak perlu menyiapkan uang kembalian,” ujarnya.
Tidak hanya membantu pembeli, QRIS BRI juga memudahkan Jalaludin mengelola hasil penjualan. Semua transaksi otomatis tercatat melalui layanan BRIMerchant sehingga dia tidak perlu lagi mencatat pemasukan secara manual.
Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade
“Enaknya sekarang kalau QRIS bisa dilihat hasilnya nanti kalau sudah di rumah. Lebih praktis sih jadi nggak perlu repot mencatat lagi,” kata Jalaludin.
Transformasi digital BRI juga terus berkembang melalui fitur QRIS Tap di BRImo. Direktur Information Technology BRI Saladin D. Effendi mengatakan fitur tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan transaksi cepat dan praktis.