Rupiah Sore Terpuruk Lawan Dolar AS, Tembus Rp15.100
JAKARTA, iNews.id - Kurs rupiah di pasar spot pada akhir perdagangan, Selasa (17/3/2020), terus mencatatkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda kini berada di level psikologis Rp15.100 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan, rupiah terdepresiasi 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.172 per dolar AS dari posisi kemarin Rp14.940 per dolar AS. Laju pergerakan harian rupiah tercatat Rp14.940-15.172 per dolar AS.
Business Insider mencatat, rupiah melemah 245 poin atau 1,64 persen menjadi Rp15.170 per dolar AS dari sesi terakhir sebelumnya Rp14.925 per dolar AS. Saat dibuka, rupiah diperdagangkan di Rp14.925 per dolar AS dengan rentang pergerakan harian Rp14.925-15.170 per dolar AS.
Berdasarkan laporan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah melemah 265 poin menjadi Rp15.083 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.818 per dolar AS.
Dolar AS Tembus Rp15.000 Pagi ini
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi nilai tukar rupiah semakin tertekan dampak wabah COVID-19 yang terus meluas hingga menembus level Rp15.000 per dolar AS. "Tekanan akibat pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi akan berlangsung hingga ke kuartal kedua dan diprediksi akan terjadi masa puncak penyebaran virus corona di bulan Mei 2020 di mana bersamaan dengan bulan puasa dan Idul Fitri," kata dia di Jakarta, Selasa.
Saat ini, jumlah orang yang positif virus korona bertambah 38 orang menjadi 172 orang dari sebelumnya 134 orang. Korban meninggal sebanyak lima orang dan sembilan dinyatakan sembuh.
Namun, angka tersebut tentunya masih berisiko bertambah, mengingat wabah virus korona baru masuk ke Indonesia sejak awal bulan ini.
Di samping itu, lanjut Ibrahim, penanganan rumah sakit yang belum siap menampung pasien virus korona juga menjadi alasan pasar kecewa terhadap pelaksanaan di lapangan yang tidak sesuai dengan pengarahan oleh pemerintah.
Bahkan saat ini, pandemi virus korona sudah merebak ke wilayah kota-kota kecil yang fasilitas rumah sakitnya kurang memenuhi syarat dan belum siap menampung korban penyakit tersebut.
Editor: Ranto Rajagukguk