Rupiah Tertekan di Perang AS-Israel vs Iran, Ditutup di Rp16.872
“Hari ini pasar akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat Dolar AS,” jelas Ibrahim.
Sementara itu fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed. Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek.
Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi non migas sebesar 3,22 miliar dolar AS.
Komoditi penyumbang surplus pada nonmigas yaitu lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Pada sisi yang sama neraca komoditas Migas tercatat defisit sebanyak 2,27 miliar dolar AS dengan komoditi penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak dan gas.
Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada Januari 2026. Tercatat nilai ekspor Indonesia mencapai 22,16 miliar dolar AS atau naik 3,39 persen jika dibandingkan dengan Januari 2025. Nilai ekspor Migas tercatat 0,89 miliar dolar AS atau turun 15,62 persen. Sementara nilai ekspor non migas tercatat naik 4,38% dengan nilai 21,26 miliar dolar AS.