Salip New York, Hong Kong Miliki Miliarder Terbanyak di Dunia
HONG KONG, iNews.id – Hong Kong menyalip New York sebagai kota dengan jumlah orang superkaya terbanyak di dunia. Lesatan pertumbuhan ekonomi Asia telah mendorong terciptanya rekor baru itu, berdasarkan laporan World Ultra Wealth Report 2018 dari Wealth-X.
Dalam laporan yang dipublikasikan Kamis (6/9/2018), Hong Kong menjadi rumah bagi orang-orang superkaya setelah penciptaan kekayaan dunia begerak ke Asia, terutama kota-kota di China.
”Jumlah ultrakaya tumbuh 13 persen pada 2017 menjadi 255.810 individu di seluruh dunia. Kekayaan total mereka melonjak hingga 31,5 triliun dolar AS, didorong oleh meningkatnya pasar saham dan pertumbuhan ekonomi,” bunyi laporan Wealth-X, dikutip dari Staronline.
Menurut Wealth-X, mereka yang berkategori superkaya atau ultrakaya yakni individu dengan jumlah total kekayaan 30 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau lebih. New York telah menempati posisi teratas sejak firma riset ini pertama kali memulai pemeringkatan pada 2011.
Dalam laporan terbarunya, Wealth-X menyebut pertumbuhan individu superkaya melonjak 19 persen di Asia atau dua kali lipat dibandingkan Amerika Utara. China memimpin jumlah orang superkaya itu dengan pertumbuhan sebesar 14 persen.

Pergeseran itu telah membantu Hong Kong menjadi kawasan terkaya di dunia. Kota bekas koloni Inggris itu kini memiliki lebih dari 10.000 orang superkaya, melampaui New York dengan 8.900 orang. Tokyo menempati peringkat ketiga dengan 6.800 orang.
Kendati demikian, secara keseluruhan Amerika Serikat tetap menjadi rumah bagi superkaya dunia. Untuk saat ini, Negeri Paman Sam itu memiliki 80.000 orang superkaya dunia, jauh di atas China yang baru sekitar 17.000. Namun, AS mencatat pertumbuhan terlemah.
”Dalam empat tahun ke depan, Asia diperkirakan mengalami pertumbuhan superkaya paling kuat di dunia,” bunyi laporan tersebut. Dalam hitungan Wealth-X, pada 2022 Asia diprediksi memiliki 108.000 individu superkaya atau tumbuh 50 persen.
”Peningkatan kekayaan Asia dibantu oleh naiknya belanja konsumen, lebih banyak investasi di infrastruktur, serta reformasi ekonomi.” Adapun Amerika Utara diperkirakan tumbuh kurang dari sepertiga selama periode waktu itu, menjadi 132.000.
Editor: Zen Teguh