Ada Deflasi, Upah Riil Buruh Tani Naik 0,87 Persen pada September 2019

Rully Ramli ยท Selasa, 15 Oktober 2019 - 17:09 WIB
Ada Deflasi, Upah Riil Buruh Tani Naik 0,87 Persen pada September 2019

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat upah nominal buruh tani nasional per September 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,13 persen dibandingkan bulan lalu. Pada Juli 2018 upah tersebut sebesar Rp54.354 per hari dan kini menjadi Rp54.424 per hari.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, upah riil buruh tani juga mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen dibanding Agustus 2019, yaitu dari Rp37.904 menjadi Rp38.233. Kenaikan ini didorong oleh terjadinya penurunan indeks harga konsumen (IHK) sepanjang September 2019.

"Selama bulan September terjadi deflasi di pedesaan cukup dalam sebesar 0,73 persen. Sehingga upah riil petani mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan upah nominalnya, yaitu 0,87 persen," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Pria yang akrab disapa Kecuk itu menambahkan, kenaikan upah nominal harian juga dirasakan oleh buruh bangunan. Pada September 2019, rata-rata upah nominal buruh bangunan naik 0,01 persen dibanding Agustus 2019 yaitu, dari Rp89.063 menjadi Rp89.072 per hari. Sementara upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,28 persen dari Rp64.190 menjadi Rp64.372.

"Hal yang sama juga terjadi pada buruh, upah nominal naik tipis, tetapi daya beli menjadi lebih bagus karena September deflasi 0,27 persen sehingga upah riil buruh naik 0,28 persen," kata dia.

Sementara itu, rata-rata upah nominal buruh potong rambut wanita mengalami kenaikan 0,08 persen, yaitu dari Rp28.372 menjadi Rp28.395 sedangkan upah riil naik 0,35 persen yaitu, Rp20.449 menjadi Rp20.521.

Selain itu, rata-rata upah pembantu rumah tangga per bulannya naik 0,40 persen, yaitu Rp415.422 menjadi Rp417.084 sedangkan upah riil naik 0,68 persen, dari Rp299.403 menjadi Rp301.426.

"Jadi dengan deflasi beberapa bulan belakangan ini kita berharap sampai Desember terus terkendali. Sehingga daya beli masyarakat bisa bertahan," ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk