AirNav Akan Perkuat Tower ATC Bandara di Daerah Rawan Gempa
JAKARTA, iNews.id - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Airnav Indonesia akan memutakhirkan standar operasi dan prosedur kenavigasian pada bandara-bandara yang berpotensi mengalami bencana gempa bumi.
Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto mengatakan, kejadian menara navigasi yang roboh di Bandara Mutiara Sis Al Jufrie, Palu (28/9/2018) menjadi sebuah pelajaran penting mempersiapkan kondisi darurat memandu pesawat melalui sistem kenavigasian.
”Gempa di Palu akan kami jadikan contoh ke depannya sehingga kami memiliki emergency plan yang lebih siap. Kalau di tempat yang besar seperti Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang) sudah ada SOP sehingga kalau ada keadaan darurat sudah tahu evakuasi ke mana dan para petugas harus paham. Yang belum itu di tempat- tempat yang kecil seperti di Palu,” kata Novie dalam diskusi Keselamatan Penerbangan di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, struktur menara navigasi yang dibangun pada 2000 ke atas dijamin sudah tahan gempa. Bahkan, menara navigasi di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dibangun dengan ketahanan 9 skala Richter (SR). Namun, untuk menara yang sudah ber umur, seperti di Bandara Sis Al Jufri yang telah berdiri sejak 1978, belum didesain untuk tahan gempa, apalagi mencapai 7,4 SR seperti yang terjadi di Palu.
Lompat dari Tower, Petugas ATC AirNav Tewas saat Gempa di Palu
”Tower yang di Palu sudah sejak 1978. Secara struktur, tower itu tidak didesain untuk tahan gempa hingga 7 SR lebih. Kalau untuk tower di Bali, sudah antisipasi hal-hal demikian. Jadi ke depan tower harus tahan sekian skala Richter dan bagaimana menghadapi kondisi emergency, seperti kebakaran, harus benar-benar dipersiapkan,” ungkap Novie.
Selain mengevaluasi kondisi menara ATC, pihaknya juga akan mempertimbangkan kondisi di dalam menara ATC yang memungkinkan seorang petugas ATC bisa menyelamatkan diri dalam kondisi darurat. Hal itu, kata dia, bisa dilakukan dengan mempertimbangkan fasilitas seperti yang ada di markas pemadam kebakaran.
”Itu kita pertimbangkan. Kalau di India, kondisi darurat ketika berada di atas menara, petugasnya bisa menyelamatkan diri melalui tiang seperti yang ada di markas petugas pemadam. Jadi ketika menara dalam keadaan tidak aman, misalnya kebakaran atau gempa petugas bisa menyelamatkan diri,” ucapnya.
Dia menambahkan, AirNav bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta beberapa BUMN karya sudah berkoordinasi untuk membuat desain menara navigasi yang lebih tangguh dan diharapkan menjadi desain induk dari menara-menara navigasi penerbangan di seluruh Indonesia.