Angka Kemiskinan di Indonesia Turun, Simak Tiga Faktor Pendorongnya
JAKARTA, iNews.id - Tingkat kemiskinan Indonesia mulai menurun dari tahun ke tahun. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2017 menunjukkan, tingkat kemiskinan mencapai titik terendah selama 10 tahun terakhir yaitu sebesar 10,12 persen.
Terdapat beberapa hal yang mendorong penurunan kemiskinan. Pertama, relatif stabilnya tingkat inflasi pada tingkat 1,45 persen dalam kurun waktu Maret-September 2017. Hal ini disebabkan karena pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga pada saat hari raya Lebaran terutama untuk komoditas pangan.
"Inflasi sepanjang tahun masih masuk target, yaitu 3,61 persen. Ini sangat membantu orang yang tidak miskin menjadi tidak semakin miskin lagi," kata Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro di kantornya, Jakarta, Selasa (9/1/2018).
Faktor kedua, meningkatnya upah riil buruh tani sebesar 1,05 persen dalam enam bulan terakhir. Sebab, buruh tani merupakan salah satu tenaga kerja terbanyak yang tegolong miskin.
Dengan demikian, peningkatan upah riil buruh tani sangat membantu meningkatkan kesejahteraan petani sehingga mendukung penurunan angka kemiskinan di pedesaan. "Karena masyarakat miskin itu paling banyak dari petani dan buruh. Ini upah riilnya meningkat sehingga kemiskinan menurun," ucapnya.
Faktor ketiga, terintegrasinya program-program penanggulangan kemiskinan yang saat ini gencar dilakukan pemerintah. Misalnya, perbaikan data untuk targeting dan penyaluran nontunai melalui satu kartu, Program Keluarga Harapan (PKH) yang terintegrasi dengan bantuan lain, reformasi subsidi pangan dan energi tepat sasaran, dan optimalisasi penggunaan dana desa.
Apalagi, kini penyaluran dana desa dan cara pemakaiannya sudah semakin baik serta penyaluran PKH yang terintegrasi bisa mendorong akumulasi aset atau tabungan dan akses layanan lainnya. "Intinya karena ada tendensi yang baik dari penurunan kemiskinan di pedesaan menjadi semakin cepat dari perkotaan berarti bisa kita lihat sebagai akibat dari upah buruh yang membaik dan dana desa yang tepat sasaran," tuturnya.
Angka kemiskinan di pedesaan lebih tinggi dari di perkotaan. Pada September 2017 saja kemiskinan di pedesaan sebesar 13,47 persen atau sebanyak 16,31 juta jiwa. Sementara di perkotaan sebesar 7,26 persen atau sebanyak 10,27 persen.
Editor: Ranto Rajagukguk