Arifin Tasrif Siapkan Insentif untuk Program Gasifikasi Batu Bara
Adapun, salah satu proyek gasifikasi batu bara saat ini tengah dikerjasamakan oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Bukit Asam (PTBA) Tanjung Enim & Air Products. Proyek ini dinilai sudah cukup ekonomis lantaran PTBA akan memasok batu bara dengan kalori rendah dengan harga terjangkau.
“Pada tahun 2023 proyek Coal to DME kerja sama Bukit Asam dan Pertamina diharapkan dapat memproduksi 1,4 Juta Ton DME yang dapat mensubstitusi LPG,” ujar Arifin.
Nantinya, konsumsi batu bara yang dibutuhkan PTBA sebanyak 8 juta ton per tahun dengan GAR 4.000 kcal/kg untuk hasilkan 1,4 juta DME, 300.000 Methanol dan 4,25 juta ton MEG. Salah satu dukungan yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan harga khusus bahan baku gasifikasi di kisaran 20–21 dolar AS per ton. “Sudah (ditetapkan) kalau bisa di bawah lagi. Kita dorong proyek yang memang memanfaatkan batu bara untuk hilirisasi,” ujar Arifin.
Arifin melanjutkan, penetapan harga batu bara khusus untuk hilirisasi sebagai bahan baku LPG tidak memerlukan payung hukum. “Kayaknya tidak perlu pakai Permen (Peraturan Menteri), B to B (business to business) saja, tapi kita yang minta supaya bisa masuk keekonomian,” kata Arifin menegaskan.
Tahap pengerjaan fisik sendiri baru bisa dimulai pada 2023 hingga 2024. Dalam prosesnya, batu bara dihilirisasi menjadi syngas yang bisa diubah langsung menjadi Methanol Ethylene Glycol (MEG) dengan kapasitas produksi 250.000 ton per annum. Selain itu, syngas juga bisa diolah kembali dan menghasilkan Methanol sebanyak 300.000 ton per annum, selanjutnya Methanol masih bisa diolah kembali untuk menjadi DME dengan total produksi pada tahun 2024 mencapai 1,4 juta ton per annum.
Editor: Ranto Rajagukguk