Bagaimana Dampak Krisis Evergrande ke Indonesia? Ini Kata BI

Aditya Pratama ยท Selasa, 21 September 2021 - 19:30:00 WIB
Bagaimana Dampak Krisis Evergrande ke Indonesia? Ini Kata BI
Gubernur BI Perry Warjiyo bicara soal dalampak krisis Evergrande ke Indonesia.

JAKARTA, iNews.id - Salah satu perusahaan properti terbesar di China, Evergrande mengalami krisis keuangan. Bahkan perusahaan memiliki risiko mengalami gagal bayar utang senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.260 triliun dengan bunga utang yang jatuh tempo 83,5 juta dolar AS. 

Terkait hal itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai krisis gagal bayar Evergrande tak mempengaruhi pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik serta nilai tukar rupiah.

"Sejauh ini memang pengaruhnya terhadap Indonesia di awal itu terjadi pada pasar modal tapi kemudian berangsur mereda. Sementara dampaknya di pasar SBN maupun nilai tukar rupiah tidak nampak," kata dia dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan September 2021 secara daring di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (21/9/2021).

Dia menuturkan, tak berpengaruhnya pasar SBN terlihat dari derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, terutama dalam periode Juli hingga 17 September 2021 yang mencatatkan nett inflows sebesar 1,5 miliar dolar AS.

Meski begitu, Perry tak menampik krisis Evergrande sempat mempengaruhi pasar modal domestik, sebagai implikasi terganggunya pasar keuangan global.

"Jadi memang gangguan di pasar modal murni berasal dari faktor eksternal bukan karena faktor domestik," ujarnya.

Kendati demikian, dia memperkirakan perkembangan pasar modal Indonesia ke depannya akan lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental seiring dengan perkembangan ekonomi yang terus membaik di dalam negeri dibanding kondisi teknikal di pasar keuangan global.

Dengan keyakinan ekonomi Indonesia yang membaik, defisit transaksi berjalan yang rendah, cadangan devisa yang besar, dan berbagai perbaikan yang dilakukan, menurutnya, ada kecenderungan nilai tukar rupiah juga akan terus menguat atau setidaknya stabil ke depannya.

"Maka dari itu, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global, tidak hanya yang terjadi di China, namun juga di Amerika Serikat yang berkaitan dengan isu pengurangan likuditas atau tapering off Bank Sentral AS, The Fed," tutur Perry.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel: