Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Cerita Dimaki-maki Warga TikTok gegara Dolar AS Tembus Rp17.000: Kita Menilai Harus Fair
Advertisement . Scroll to see content

Bangkit, Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.580 per Dolar AS

Kamis, 22 November 2018 - 16:57:00 WIB
Bangkit, Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.580 per Dolar AS
ilustrasi. (Foto: Ant)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kurs rupiah kembali bangkit lawan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan Kamis (22/11/2018). Kurs rupiah ditutup kembali ke bawah Rp14.600.

Data Bloomberg menunjukkan, rupiah berada di level Rp14.580 per dolar AS, naik 22 poin atau 0,15 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp14.602 per dolar AS.

Rupiah sempat dibuka melemah di Rp14.604 per dolar AS dan langsung melawan balik hingga sesi sore. Kendati demikian, rupiah tercatat masih melemah 7,73 persen terhadap greenback sejak awal tahun.

Data Reuters juga menunjukkan, rupiah menguat 35 poin dari Rp14.600 ke Rp14.565 per dolar AS. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp14.565-14.605 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan.

Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia Kamis 22 November 2018, rupiah menguat 26 poin menjadi Rp14.592 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp14.618 per dolar AS.

"Rupiah menguat terhadap dolar AS seiring hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang cukup baik, sehingga menjadi sentimen positif bagi rupiah," kata Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail.

Dalam lelang SUN kemarin, kata Mikail, pemerintah menyerap Rp15 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp41,62 triliun.

Apresiasi rupiah, lanjut dia, juga terbantu oleh sentimen eksternal mengenai kemungkinan terjadinya kompromi antara Italia dan Komisi Uni Eropa untuk memutuskan besaran defisit belanja negara Italia tahun depan.

"Situasi itu membuat mata uang euro dan pound sterling menguat terhadap dolar AS, dan berdampak positif pada sejumlah mata uang di kawasan Asia," ujarnya.

Sementara itu, Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan pergerakan rupiah relatif masih terbatas menyusul masih adanya sentimen perang dagang AS dan China serta antisipasi gagalnya titik temu kesepakatan dagang dalam pertemuan G-20.

"Situasi itu masih akan berdampak positif terhadap dolar AS ke depannya," katanya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut