Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Ogah Beri Wejangan ke Thomas Djiwandono: Dia Lebih Pintar dari Saya, Sudah Jago
Advertisement . Scroll to see content

BI Sebut Siapapun Presidennya, Ekonomi RI Bakal Terpengaruh The Fed

Jumat, 16 November 2018 - 13:04:00 WIB
BI Sebut Siapapun Presidennya, Ekonomi RI Bakal Terpengaruh The Fed
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan, siapapun presiden yang akan terpilih nanti, ekonomi RI akan tetap terpengaruh dengan kebijakan normalisasi moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (Fed).

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut, ada korelasi yang kuat selama antara kebijakan The Fed dengan ekonomi RI khususnya soal suku bunga dan kurs rupiah. Pada 2001 misalnya, Fed memangkas suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) untuk menggerakkan ekonomi AS yang terkena dampak pemboman Menara World Trade Center (WTC).

"BI merespons dengan penurunan suku bunga acuan dan nilai tukar rupiah dapat menguat," kata Mirza di Graha CIMB, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Namun, pada 2004-2005 FFR mulai naik sehingga rupiah melemah dan BI terpaksa menaikkan suku bunga acuam. Kemudian pada 2009 saat AS menurunkan FFR ke level 0,25 persen akibat krisis global, suku bunga BI ikut turun dan rupiah menguat.

Pada 2013, kata Mirza, rupiah mulai melemah sehingga BI menaikkan suku bunga. Hal ini dikarenakan saat itu The Fed memberikan isyarat menaikkan FRR sehingga membuat mata uang negara-negara lain melemah.

"Maka kita harus naikkan bunga dan kita kendalikan neraca perdagangan kita. Artinya negara itu butuh devisa dari luar negeri. Bisa karena FDI (foreign direct investment), bisa karena masuk ke capital market," ucapnya.

Kendati demikian, saat 2015-2017 di tengah tren kenaikan FFR, BI berhasil menurunkan suku bunga acuan. Hal ini disebabkan Indonesia menjinakkan hingga turun ke level 3 persen. Selain itu, defisit transaksi berjalan juga berada di bawah 2 persen terhadap PDB.

Sejak Mei 2018, Mirza menyebut bank sentral cukup agresif menaikkan suku bunga meski inflasi rendah. Hal ini karena defisit transaksi berjalan mulai melebar.

"Jadi ekonomi Indonesia banyak terpengaruh dengan suku bunga AS dan ini terlihat dari 2000 sampai 2018. Ternyata korelasinya kuat, nothing to do dengan presidennya siapa," kata Mirza.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut