Defisit APBN 2025 Nyaris 3 Persen, Purbaya: Menjaga Ekonomi di Tengah Tekanan Global
JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 untuk memberikan stimulus di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.
Realisasi sementara defisit APBN menyentuh Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini mendekati ambang batas 3 persen.
"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).
Purbaya menjelaskan, kebijakan tersebut wujud nyata dari strategi counter-cyclical. Dia menyebut, pemerintah bisa saja memotong belanja untuk menekan defisit, namun hal itu akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
"Kita pastikan di bawah 3 persen ini adalah standar yang paling ketat. Jadi kita mengacu ke sana terus walaupun keadaan agak menekan kita," ujarnya.
Dia menegaskan, defisit APBN merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan ekonomi tetap tumbuh berkesinambungan. Purbaya optimistis fondasi ekonomi yang dijaga melalui stimulus tahun 2025 akan memperkuat momentum di tahun 2026.
"Lalu saya yakin nanti tahun 2026 dengan membaiknya fondasi perekonomian dan menguatnya momentum pertumbuhan ekonomi ke depan, harusnya sih defisit bisa ditekan ke level yang lebih rendah," katanya.