Ekonomi Dunia Tak Ramah, Menko Luhut Soroti Perang Dagang AS-China

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Kamis, 12 September 2019 - 15:12 WIB
Ekonomi Dunia Tak Ramah, Menko Luhut Soroti Perang Dagang AS-China

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Kondisi perekonomian dunia saat ini diliputi ketidakpastian sehingga sulit untuk diprediksi. Pasalnya, apa pun dapat terjadi tanpa bisa diduga sehingga akan merembet ke banyak hal dan berimbas ke perekonomian nasional.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, saat perhelatan IMF-WB 2018, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menilai, perekonomian dunia masih baik meskipun tahun itu ketidakpastian global mulai terjadi. Namun, dua bulan kemudian perekonomian dunia melemah.

"Saya belajar pada IMF World Bank tahun lalu bahwa ekonomi itu tidak bisa diramalkan dalam satu tahun, dalam enam bulan saja sudah bagus," ujarnya di Ballroom Djakarta Theater XXI, Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Hal ini disebabkan oleh efek dari perang dagang yang membuat kedua negara besar yang terlibat yaitu Amerika Serikat (AS) dan China mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu hal tersebut berdampak ke seluruh negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

"Mesin pertumbuhan ekonomi alami perlambatan, bagaimana dunia melemah terus," kata dia.

Menurut dia, perang dagang akibat neraca dagang AS mengalami defisit ke China sebesar 400 miliar dolar AS. Selan itu, AS juga terlalu menghabiskan anggaran untuk pertahanannya.

"Kenapa sih AS begitu banyak ke luar negeri membantu sini, deploy pasukan sini dan sebagainya, kan kalian menghabiskan resources kalian juga? Untuk nanti ke dalam negeri? Tapi jawabannya begini kami (melakukan itu karena) world policy dari AS. Tapi saya bilang tentu ada batasnya karena suatu ketika juga bisa mengganggu ekonomimu dan itu terjadi sekarang," ucapnya.

Kendati demikian, untuk menghadapi kondisi dunia yang sulit diprediksi ini pemerintah berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di saat beberapa negara di dunia mengalami resesi. Pasalnya, pemerintah bertekad untuk menjadi negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia pada 2045 mendatang.

"Salah satunya mendorong percepatan investasi. Ada empat rule of thumb investasi kita yakni harus ramah lingkungan, nilai tambah industri, mendidik tenaga kerja lokal, dan transfer teknologi," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk