Ekonomi Lesu, Bank Sentral China Pangkas Suku Bunga

Jeanny Aipassa ยท Selasa, 16 Agustus 2022 - 08:21:00 WIB
Ekonomi Lesu, Bank Sentral China Pangkas Suku Bunga
Bank of China. (Foto: Reuters)

BEIJING, iNews.id - Bank sentral China atau Bank of China secara mengejutkan memangkas suku bunga utama. Langkah itu dilakukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lesu. 

Pada Senin (15/8/2022), Bank of China memangkas suku bunga pinjaman satu tahun menjadi 2,75 persen dari 2,85 persen. Tak hanya itu, bank sentral juga menyuntikkan tambahan 400 miliar yuan atau Rp872.328 triliun ke pasar pinjaman setelah pertumbuhan output pabrik dan penjualan ritel melemah pada Juli dan penjualan rumah turun dua digit.

Dalam pernyataannya, Bank of China menyarankan pemerintah untuk sementara mengesampingkan kekhawatiran atas utang yang tinggi untuk mencegah kemerosotan pada kuartal III 2022. 

Pemerintah China telah memberikan tindakan keras terhadap pinjaman berlebihan di industri real estat seiring kasus raksasa properti Evergrande Group yang secara luas memicu penurunan penjualan dan konstruksi rumah.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional, pertumbuhan output pabrik pada Juli 2022 melambat menjadi 3,8 persen dibandingkan tahun lalu, turun 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya,  

Pertumbuhan belanja konsumen turun menjadi 2,7 persen, turun 0,4 poin persentase dari Juni. Penjualan perumahan dan real estat komersial lainnya turun 28,8 persen dari tahun sebelumnya.

Beijing memaksa pengembang untuk mengurangi tingkat utang, yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi anjlok pada pertengahan 2021, mengganggu pemulihan dari pandemi virus korona. 

Tindakan keras itu telah membuat pengembang yang lebih kecil bangkrut dan memicu kekhawatiran default oleh Evergrande Group, yang berutang 310 miliar dolar AS kepada bank dan pemegang obligasi.

"Tren penurunan di real estat memiliki "dampak besar pada pertumbuhan ekonomi," kata Fu Linghui, juru bicara pemerintah, pada konferensi pers, seperti dikutip Associated Press, Senin (15/8/2022).

Pemotongan suku bunga dan uang tambahan untuk pinjaman kecil dibandingkan dengan ekonomi China senilai 17 triliun dolar AS per tahun, merupakan terbesar kedua di dunia. 

Langkah tersebut secara luas dilihat sebagai sinyal kepada industri perbankan milik negara untuk meminjamkan lebih banyak dan memotong biaya untuk peminjam komersial.

Partai berkuasa telah secara efektif mengakui bahwa mereka tidak dapat mencapai target pertumbuhan resmi 5,5 persen tahun ini setelah pembatasan anti-virus mengganggu perdagangan, manufaktur, dan belanja konsumen. 

Meskipun ada tekanan pada pertumbuhan ekonomi, para pemimpin partai menegaskan komitmen mereka terhadap strategi “nol-Covid” yang parah dalam sebuah pernyataan 29 Juli. 

Ini menurunkan referensi sebelumnya ke target pertumbuhan setelah ekonomi tumbuh hanya 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya di paruh pertama tahun 2022.

"Momentum pemulihan ekonomi telah melambat. Lebih banyak upaya diperlukan untuk mengkonsolidasikan fondasi pemulihan ekonomi," kata Fu Linghui. 

Perlambatan ekonomi China menambah hambatan politik bagi Xi Jinping, pemimpin paling kuat China setidaknya sejak 1980-an. Xi Jinping diperkirakan akan mencalonkan dirinya untuk masa jabatan lima tahun ketiga sebagai pemimpin Partai Komunis pada pertemuan musim gugur ini.

Dia masih secara luas diperkirakan akan berhasil, tetapi beberapa analis mengatakan dia mungkin terpaksa berkompromi dengan berbagi lebih banyak kekuatannya dengan para pemimpin partai lainnya.

Partai yang berkuasa sedang berjuang untuk menghidupkan kembali aktivitas setelah Shanghai, ibu kota bisnis negara itu, dan pusat-pusat industri lainnya ditutup selama berminggu-minggu mulai akhir Maret 2022 untuk memerangi virus Covid-19.

Manajemen pelabuhan Shanghai, salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, mengatakan pengiriman kembali normal, tetapi para ekonom mengatakan mungkin butuh berbulan-bulan sebelum aliran smartphone, peralatan rumah tangga, elektronik konsumen, dan barang-barang lainnya melalui jalur pasokan yang kompleks pulih sepenuhnya.

Sebuah survei dari produsen yang dirilis sebelumnya menunjukkan aktivitas pada bulan Juli mengalami kontraksi. Indikator order baru, ekspor dan penyerapan tenaga kerja menurun.

Penjualan ritel turun 0,7 persen dari tahun sebelumnya di paruh pertama setelah jatuh 11 persen pada April menyusul penutupan sementara Shanghai dan kota-kota lain.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:








Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda