Goldman Sachs Prediksi Rupiah Tertekan dalam Jangka Pendek

Djairan ยท Selasa, 13 April 2021 - 09:30:00 WIB
Goldman Sachs Prediksi Rupiah Tertekan dalam Jangka Pendek
Kinerja rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun mengecewakan setelah minus 3,7 persen. (Foto: ilustrasi/Ant)

 JAKARTA, iNews.id - Kinerja rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun mengecewakan. Mata uang Garuda menjadi yang terburuk kedua di antara negara emerging market setelah Baht Thailand.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/4/2021), Goldman Sachs Group Inc menyatakan, imbal hasil (yield) obligasi AS dan menguatnya greenback akan menekan aset-aset dalam mata uang rupiah.

Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 3,7 persen dengan posisi saat ini Rp14.595 per dolar AS. Kenaikan yield obligasi AS memicu dana asing keluar dari aset-aset di emerging market, termasuk Indonesia.

"Salah satu pernyataan yang sering diajukan dalam beberapa minggu terakhir adalah apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli aset-aset di Indonesia. Jawabanya menurut pandangan kami, belum," kata Analis Goldman Sachs, Zach Pandl.

Menurut Zach, harga obligasi Indonesia saat ini belum murah. Sementara data ekonomi AS yang terus membaik akan terus mendongkrak imbal hasil obligasi AS, sehingga menekan aset-aset di emerging market lebih lanjut.

"Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan di antara mata uang di emerging market," kata Head of Fixed Income untuk Asia ex Jepang Pinebridge, Arthur Lau.

Dia memprediksi rupiah akan tertekan dalam beberapa bulan ke depan karena sejumlah faktor. Pertama, pembagian dividen musiman dan kupon obligasi pada April-Mei. Kedua, impor akan meningkat pada kuartal II karena Lebaran.

Bank Indonesia (BI) berkali-kali menekankan bahwa mata uang rupiah saat ini undervalued. Deputi Gubernur Senior BI, Dody Budi Waluyo yakin rupiah akan menguat seiring rendahnya inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Editor : Rahmat Fiansyah