Hindari Kerugian, Proyek LRT Jakarta Disarankan Tak Dilanjutkan
JAKARTA, iNews.id - Pro dan kontra ihwal Angkutan umum Light Rail Transit (LRT) Jakarta masih terus mengemuka. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio kembali melontarkan kritikannya terhadap operasional LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Velodrome (fase satu) dan rencana pembangunan rute Velodrome-Dukuh Atas (fase dua).
Bahkan, megaproyek Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta digadang-gadang mangkrak karena persoalan pendanaan dan ketidakjelasan kajian akademiknya. Penilaian itu ditujukan untuk rencana pembangunan lanjutan LRT Jakarta. "Bisa dikatakan bakal mangkrak begitu? Ya anda yang bilanglah, begitu," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (23/1/2021).
Agus menilai, Pemprov DKI akan mengalami kerugian bila proyek tersebut dilanjutkan. Penilaian itu didasari pada minimnya minat masyarakat yang menggunakan LRT Jakarta.
"Mendingan tidak dilanjutkan, kalau dilanjutkan tambah rugi toh. Itu mau kemana jalannya, kalau LRT Jabodetabek jadi, itu mau ke arah mana? Yang mau naik siapa?" katanya.
Video LRT Velodrome-Kelapa Gading Masih Sepi Penumpang
Dia bilang, sejak awal pembangunan LRT Jakarta tahap satu tidak cukup efektif. Sebab, megaproyek itu dinilai minim peminat. Ada sejumlah pertimbangan yang memungkinkan kereta api ringan itu tidak perlu dibangun, salah satunya posisi jalur LRT yang menghubungkan Kelapa Gading-Velodrome.
Selain koridor yang sangat pendek, masyarakat di wilayah Timur Jakarta dinilai lebih memilih moda transportasi lain seperti TransJakarta yang lebih murah dan terjangkau dibandingkan menggunakan memilih LRT.
"Dari awal sudah saya kritisi saat dibangun. Saya selalu tanya yang naik siapa? Cuman segitu buat apa, itu kan belum selesai, kan gak diteruskan, mana ada yang mau naik. Lebih baik naik sepeda. Terus tiketnya berapa, itukan mahal kereta buatan Korea Selatan. Terus yang mau naik siapa? Balik pokok kapan? Minta subsidi? Kan dari awal saya sudah tanya seperti itu, cari saja di data digital saya. Sudah ngomong itu," ucapnya.
Saat ini, tingkat okupansi penumpang tidak sesuai target. Angka itu jauh dari rencana awal Pemprov DKI Jakarta saat sebelum moda transportasi integrasi itu dibangun sejak 2015 silam. Rencana awal, okupansi diproyeksikan mampu membawa 14.000 penumpang per hari.
Manajemen PT LRT Jakarta menilai, tingkat keterisian yang tercatat minim itu akibat Pemerintah Pusat memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19 berlangsung. Sebelumnya, kereta mengangkut 900 penumpang dalam sehari.
Editor: Ranto Rajagukguk