Imbas Covid-19, Thailand Catatkan Ekspor Terendah dalam 2 Dekade

Djairan · Rabu, 22 Juli 2020 - 23:18:00 WIB
Imbas Covid-19, Thailand Catatkan Ekspor Terendah dalam 2 Dekade
Thailand akan mencatatkan penurunan volume ekspor beras terendah sejak tahun 2000. (Foto: AFP)

BANGKOK, iNews.id - Thailand akan mencatatkan penurunan volume ekspor beras terendah sejak tahun 2000. Hal itu sesuai dengan pernyataan Asosiasi Eksportir Beras Thailand, yang memangkas target ekspornya untuk tahun 2020 sebesar 13 persen, menjadi 6,5 juta metrik ton dari perkiraan sebelumnya sebesar 7,5 juta ton.

Dengan begitu, Thailand akan kehilangan statusnya sebagai pengekspor beras nomor dua di dunia tahun ini di bawah India dan Vietnam. Hal ini dipicu adanya kekeringan dan mata uang baht yang menguat sehingga membuat pengiriman lebih mahal daripada biasanya.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan fakta bahwa beberapa importir telah menimbun persediaan beras di tengah pandemi Covid-19, yang memaksa banyak negara untuk menutup perbatasannya. Keadaan tersebut semakin membuat petani Thailand khawatir akan serapan hasil panen ke depan.

"Ini akan menjadi situasi sulit selama enam bulan ke depan, namun sebenarnya ekspor bisa lebih membaik jika mata uang baht dapat lebih melemah," ujar presiden asosiasi Charoen Laothamatas, dikutip dari Bloomberg Rabu (22/7/2020).

Kekeringan di seluruh lahan pertanian Thailand telah memangkas produksi beras, artinya menghasilkan harga yang lebih tinggi. Baht yang menguat juga membuat beras Thailand lebih mahal daripada di negara-negara pengekspor lainnya.

Asosiasi tersebut menyebut, Afrika yang pada 2019 mengimpor 55 persen beras dari Thailand, saat ini terpaksa mencari pasokan yang lebih murah dari pemasok lain. Sementara Vietnam, tengah diuntungkan oleh meningkatnya pesanan beras dari Filipina, China dan Malaysia.

Patokan harga beras Thailand pada bulan April mencapai harga tertinggi sejak 2013, karena kekeringan yang memangkas produksi dan beberapa importir melakukan penimbunan. Industri beras sangat penting bagi Negeri Gajah Putih tersebut, karena banyaknya tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya di sana.

Industri beras telah berkontribusi bagi sepertiga populasi penduduk Thailand yang berjumlah 69 juta jiwa. Kekeringan yang sedang berlangsung, juga menambah tekanan pada ekonomi yang bergantung pada aktivitas ekspor dan pariwisata itu, yang saat ini menghadapi kontraksi terdalam dalam lebih dari dua dekade. 

Editor : Ranto Rajagukguk