Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya soal Defisit APBN Melebar: Saya Bisa Buat 0 Persen, tapi Ekonomi Morat-marit
Advertisement . Scroll to see content

IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,7 Persen

Rabu, 12 Oktober 2022 - 13:51:00 WIB
IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,7 Persen
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2023 tumbuh 2,7 persen atau turun 0,2 persen dari perkiraan Juli. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON DC, iNews.id - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2023 tumbuh 2,7 persen atau turun 0,2 persen dari perkiraan Juli. Sementara, pertumbuhan ekonomi tahun ini ditargetkan sebesar 3,2 persen.

Ekonomi global mengalami sejumlah tantangan yang bergejolak karena inflasi yang lebih tinggi daripada beberapa dekade, pengetatan kondisi keuangan di sebagian besar wilayah, konflik Rusia-Ukraina, dan pandemi Covid-19 yang berkepanjangan sangat membebani prospek. 

"Ini adalah profil pertumbuhan terlemah sejak 2001 kecuali untuk krisis keuangan global dan fase akut pandemi Covid-19 dan mencerminkan perlambatan signifikan bagi ekonomi terbesar," tulis laporan World Economic Outlook (WEO) dikutip dari Antara, Rabu (12/10/2022).

Kontraksi dalam produk domestik bruto (PDB) riil yang berlangsung setidaknya selama dua kuartal berturut turut terlihat di beberapa titik selama 2022-2023 atau di sekitar 43 persen ekonomi. Angka ini berjumlah lebih dari sepertiga dari PDB dunia.

Memperhatikan risiko terhadap prospek tetap luar biasa besar dan ke sisi negatifnya, laporan WEO terbaru mengatakan, kebijakan moneter dapat salah menghitung sikap yang tepat untuk mengurangi inflasi, lebih banyak guncangan harga energi dan pangan dapat menyebabkan inflasi bertahan lebih lama, dan pengetatan global dalam kondisi pembiayaan dapat memicu tekanan utang pasar negara berkembang yang meluas.

IMF memperingatkan, fragmentasi geopolitik dapat menghambat perdagangan dan arus modal, yang selanjutnya menghambat kerja sama kebijakan iklim. Adapun keseimbangan risiko cenderung menguat ke sisi negatif, dengan sekitar 25 persen peluang pertumbuhan global satu tahun ke depan turun di bawah 2,0 persen.

"Risiko kesalahan kalibrasi kebijakan moneter, fiskal, atau keuangan telah meningkat tajam pada saat ketidakpastian tinggi dan kerentanan yang meningkat," ujar kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas pada konferensi pers di Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia 2022.

Dia menambahkan, kondisi keuangan global dapat memburuk dan dolar menguat lebih lanjut jika gejolak di pasar keuangan meletus. Dia juga mencatat bahwa hal ini akan menambah secara signifikan tekanan inflasi dan kerentanan keuangan di seluruh dunia, terutama di negara emerging markets dan negara berkembang.

"Inflasi bisa, sekali lagi, terbukti lebih persisten, terutama jika pasar tenaga kerja tetap sangat ketat," kata Gourinchas.

IMF berpendapat bahwa pengetatan moneter yang ketat dan agresif adalah penting untuk menghindari de-anchoring inflasi.

"Kredibilitas bank sentral yang diperoleh dengan susah payah dapat dirusak jika mereka salah menilai lagi kegigihan inflasi yang membandel. Ini akan terbukti jauh lebih merusak stabilitas ekonomi makro di masa depan," ucap Gourinchas.

Kepala ekonom IMF mencatat kebijakan fiskal seharusnya tidak bekerja dengan tujuan yang bersilangan dengan upaya otoritas moneter untuk menurunkan inflasi. "Melakukan hal itu hanya akan memperpanjang inflasi dan dapat menyebabkan ketidakstabilan keuangan yang serius, seperti yang diilustrasikan oleh peristiwa baru-baru ini," tuturnya.

Dalam laporan terbaru, IMF juga menyoroti bahwa krisis energi dan pangan, ditambah dengan suhu musim panas yang ekstrem, adalah pengingat yang nyata tentang seperti apa transisi iklim yang tidak terkendali.

"Ada beberapa biaya melakukan transisi iklim di sisi ekonomi makro, biaya ini sangat, sangat moderat dibandingkan dengan biaya tidak melakukan transisi iklim," ujarnya. 

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut