Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perputaran Uang di Bahodopi Rp5,9 Triliun per Tahun, Didominasi Karyawan IMIP
Advertisement . Scroll to see content

Inflasi Stagnan, China di Ambang Deflasi

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 09:40:00 WIB
Inflasi Stagnan, China di Ambang Deflasi
Inflasi di China tidak mengalami perubahan pada bulan September 2023. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id - Inflasi di China tidak mengalami perubahan pada bulan September 2023. Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS), Indeks harga konsumen (CPI) tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, sementara CPI naik 0,1 persen di bulan Agustus.

Mengutip Reuters, harga konsumen China melemah dan harga di tingkat pabrik menyusut sedikit lebih cepat dari perkiraan pada bulan September. Kedua indikator tersebut menunjukkan tekanan deflasi yang terus-menerus di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Inflasi inti tahun-ke-tahun, tidak termasuk harga makanan dan bahan bakar menyentuh 0,8 persen, sama seperti bulan Agustus.

Indeks harga produsen (PPI) turun 2,5 persen dari tahun sebelumnya, berada di tren negatif selama 12 bulan berturut-turut, meskipun laju penurunannya melambat dari bulan Agustus. Para ekonom memperkirakan penurunan sebesar 2,4 persen pada bulan September.

“Inflasi CPI yang berada pada angka nol menunjukkan tekanan deflasi di China masih merupakan risiko nyata terhadap perekonomian. Pemulihan permintaan domestik tidak akan kuat, tanpa dorongan signifikan dari dukungan fiskal,” ujar Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang dikutip, Sabtu (14/10/2023).

“Kerusakan akibat perlambatan sektor properti terhadap kepercayaan konsumen terus membebani permintaan rumah tangga,” tuturnya.

Sementara, harga pangan turun 3,2 persen dari tahun sebelumnya, melanjutkan penurunan sebesar 1,5 poin persentase dari bulan Agustus dan menurunkan IHK. Harga daging babi menyusut 22 persen, penurunan yang lebih tajam dibandingkan penurunan 17,9 persen di bulan Agustus.

Meskipun terdapat tanda-tanda bahwa perekonomian China mulai stabil, kekhawatiran mengenai keberlanjutan pemulihan masih tetap ada.

IMF pada hari Selasa menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini dan tahun depan, karena krisis properti negara tersebut dan lemahnya permintaan eksternal. Sektor properti China belum bangkit dari keterpurukan meskipun mendapat sejumlah langkah dukungan kebijakan.

Perjalanan selama periode liburan pertengahan musim gugur dan Hari Nasional baru-baru ini naik tipis 4,1 persen dari tingkat sebelum pandemi pada tahun 2019, meskipun angka ini lebih rendah dari perkiraan resmi.

Sebelumnya, China telah meluncurkan serangkaian langkah kebijakan dalam beberapa bulan terakhir untuk menghidupkan kembali ekonomi yang terpuruk setelah pemulihan pascapandemi melambat.

Untuk menghidupkan kembali kepercayaan investor, bank-bank negara 'Empat Besar' China pada hari Rabu mengumumkan peningkatan kepemilikan saham oleh induk perusahaan mereka, Central Huijin Investment Ltd.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut