Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Diseret-seret
WASHINGTON, iNews.id - Berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START, memicu kekhawatiran dunia akan potensi perlombaan senjata baru. Di tengah situasi tersebut, China dengan tegas menolak untuk dilibatkan dalam perjanjian nuklir baru yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
Perjanjian New START resmi berakhir pada Rabu (4/2/2026), menandai berakhirnya satu-satunya kesepakatan utama yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir dua kekuatan terbesar dunia. Presiden Trump pun menyerukan perlunya perjanjian nuklir baru yang lebih modern dan tahan lama, namun dengan satu syarat, melibatkan China.
Trump menilai China mengalami kemajuan pesat dalam pengembangan senjata nuklir sehingga perlu dimasukkan dalam kerangka pengendalian global. Namun usulan tersebut langsung ditolak Beijing.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menegaskan, kemampuan nuklir negaranya berada pada skala yang sama sekali berbeda dengan AS dan Rusia.
Trump Desak Iran Sepakati Perjanjian Nuklir atau Hadapi Serangan Lebih Dahsyat
Juru Bicara Kemlu China Lin Jian mengatakan, negaranya tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir saat ini.
“Kemampuan nuklir China berada pada skala yang sangat berbeda dengan Amerika Serikat dan Rusia,” kata Lin Jian, seraya menegaskan posisi Beijing yang enggan dibawa-bawa dalam urusan New START.
Negara Barat Waswas dengan Perkembangan Senjata Nuklir China
Sementara itu Rusia justru menginginkan perjanjian New START, yang disepakati sejak 2010, diperpanjang. Moskow sebelumnya menolak inspeksi persenjataan nuklir sesuai ketentuan perjanjian tersebut akibat memburuknya hubungan dengan pemerintahan Joe Biden.