Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Japan Credit Rating Kembali Pertahankan Rating Indonesia di BBB+
Advertisement . Scroll to see content

JCR Kembali Upgrade Rating Surat Utang Indonesia

Kamis, 08 Februari 2018 - 16:53:00 WIB
JCR Kembali Upgrade Rating Surat Utang Indonesia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Lembaga pemeringkat surat utang asal Jepang, Japan Credit Rating Agency Ltd (JCR) meningkatkan rating surat utang Indonesia dengan tetap di level layak investasi (investment grade).

Rating surat utang jangka panjang berdenominasi valuta asing naik dari BBB- menjadi BBB dan outlook-nya naik dari positif menjadi stabil. Sementara itu untuk rating surat utang jangka panjang berdenominasi rupiah juga naik dari BBB menjadi BBB+ dengan outlook stabil dari positif.

JCR menyatakan, sejak dipimpin oleh Presiden Joko Widodo pada Oktober 2014, Indonesia terus mendorong reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam.

Reformasi tersebut dinilai telah membuahkan hasil. Pertama, paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah telah membuat iklim investasi di Indonesia menjadi lebih baik. Kedua, pembangunan infrastruktur menjadi momentum yang kuat karena didorong langsung oleh Presiden. Ketiga, utang luar negeri swasta juga turun drastis sejak 2016 sebagai akibat dari kebijakan Bank Indonesia.

"Hal inilah yang membuat daya tahan ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat terhadap risiko eksternal. Atas dasar itu, JCR meng-upgrade rating sebesar satu notch dan mengubah outlook-nya menjadi stabil," tulis Atsushida Masuda dan Shinichi Endo, Analis JCR dalam laporannya, Kamis (8/2/2018).

JCR menilai, 15 paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah telah mendorong perbaikan iklim investasi secara signifikan sehingga investasi di luar sektor sumber daya alam meningkat. Selain itu, bank sentral juga terlibat dalam menjaga inflasi tetap terkendali. Di bidang infrastruktur, keberadaan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) cukup strategis sehingga mendorong infrastruktur lebih cepat.

“Sekitar 60 persen proyek infrastruktur yang dalam tahap konstruksi, menunjukkan begitu cepatnya pembangunan infrastruktur,” katanya.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan juga terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir di tengah menguatnya ekspor non-migas. Defisit tersebut diprediksi terkendali di level 2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 2020. Cadangan devisa Indonesia juga dinilai cukup kuat untuk menahan goncangan eksternal. Begitu juga dengan perbankan yang sehat dengan tingkat kecukupan modal dan rasio kredit bermasalah yang terjaga masing-masing di levl 23,2 persen dan 2,89 persen.

“Dari sisi fiskal, pemerintah telah mendorong reformasi fiskal sejak 2015 dengan memangkas subsidi energi dan meningkatkan belanja infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Upaya ini cukup berhasil mengurangi defisit anggaran dan memperkuat kualitas serta efisiensi belanja negara,” ujarnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut