Kilang Minyak Diserang, Arab Saudi Dikabarkan Tunda IPO Aramco

Rahmat Fiansyah ยท Selasa, 17 September 2019 - 09:25 WIB
Kilang Minyak Diserang,  Arab Saudi  Dikabarkan Tunda IPO Aramco

Kilang minyak Saudi Aramco di Haradh yang diserang drone. (Foto: AFP/Planet Labs)

NEW YORK, iNews.id - Pemerintah Arab Saudi dikabarkan tengah mempertimbangkan penundaan IPO (initial public offering) Saudi Aramco. Keputusan ini menyusul serangan drone terhadap kilang minyak perusahaan.

"Mereka sedang mengkaji dampak kerusakan. Ada kemungkinan (menunda), tapi masih terlalu dini (untuk memutuskan)," ujar sumber AFP, Selasa (17/9/2019).

Aramco sebelumnya berencana menjadi perusahaan publik pada November 2019 lewat skema dual-listing. IPO pertama akan dilakukan di Riyadh sebelum go-public di bursa luar Saudi satu tahun kemudian.

Aksi korporasi Aramco tersebut diprediksi memecahkan IPO terbesar sepanjang masa. Hal ini mengingat valuasi perusahaan raksasa minyak tersebut mencapai 1 triliun dolar AS.

Rencana IPO terus bergulir dalam beberapa minggu terakhir setelah menunjuk JPMorgan sebagai lead-arranger IPO. Selain itu, Goldman Sachs dan Bank of America juga akan terlibat dalam proses IPO.

Langkah IPO dilakukan Saudi sebagai bagian dari strategi untuk mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar minyak.

Pemberontak Huthi yang dibekingi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Aramco. Kelompok ini tengah berperang dengan koalisi yang dipimpin Saudi.

Iran menepis tuduhan AS dan Saudi bahwa Tehran menjadi dalang di balik aksi serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump sempat bereaksi keras dengan mengatakan, Amerika sudah "mengunci dan memenuhi senjata" sebelum akhirnya mendingin dengan mengatakan dirinya berharap konflik bisa dihindari.

Serangan tersebut mematikan produksi dua kilang milik Aramco dengan kapasitas 5,7 juta barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan separuh total produksi minyak Saudi dan 5 persen pasokan global.

Tidak ada yang terluka akibat serangan tersebut, namun belum jelas kapan produksi minyak Saudi akan kembali normal.

Serangan ini membuat harga minyak mentah dunia melonjak. Pada sesi penutupan perdagangan Senin (16/9/2019), harga minyak Brent meroket 14,6 persen. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi sepanjang masa dalam waktu satu hari.

Editor : Rahmat Fiansyah