Kolombia Berlakukan Hari Belanja Bebas PPN di Tengah Covid-19

Djairan ยท Minggu, 21 Juni 2020 - 17:06:00 WIB
Kolombia Berlakukan Hari Belanja Bebas PPN di Tengah Covid-19
Presiden Kolombia Ivan Duque memberlakukan hari bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di tengah aktivitas jual-beli yang terpukul oleh pandemi Covid-19. (Foto: Reuters)

BOGOTA, iNews.id - Presiden Kolombia Ivan Duque memberlakukan hari bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di tengah aktivitas jual-beli yang terpukul oleh pandemi Covid-19. Keputusan itu disambut dengan ratusan ribu warga setempat yang rela ikut dalam antrean panjang di beberapa pusat perbelanjaan, meskipun di tengah tingginya jumlah kasus positif corona.

Keputusan tiga hari bebas dari PPN tersebut memang telah direncanakan sebelumnya pada Desember 2019 oleh Presiden Duque. Hal ini seiring perekonomian yang terpukul oleh anjloknya harga minyak dan kebijakan lockdown sejak akhir Maret yang membuat lumpuhnya aktivitas jual-beli.

Pemerintah memutuskan hal tersebut sebagai sarana untuk mendorong nilai konsumsi masyarakat, agar dapat naik kembali di tengah melonjaknya pengangguran dan kontraksi ekonomi bulanan hingga dua digit. Hal ini diiringi dengan beberapa kota yang memberlakukan lockdown dengan sangat ketat.

Kebijakan pembebasan PPN tersebut diiringi dengan langkah mendorong masyarakat untuk berbelanja menggunakan e-commerce, agar dapat menghindari kerumunan. Namun, tetap saja antrean panjang tak dapat dihindari.

"Tercatat penjualan naik setidaknya lima kali lipat dibandingkan dengan hari biasa selama karantina, dan naik 30 persen dibandingkan sebelum adanya pandemi Covid-19," ujar pihak pemerintah setempat dalam pernyataan resminya, dikutip dari The New York Times Minggu (21/6/2020).

Meskipun ratusan orang yang menunggu di depan toko-toko ritel terlihat menggunakan masker pelindung, namun sepertinya tindakan jaga jarak masih belum dijalankan dengan penuh kesadaran.

Hingga saat ini, tercatat jumlah kasus pasien positif Covid-19 di Kolombia telah mencapai angka 65.633, dengan jumlah kematian mencapai 2.126 korban. Meskipun begitu, minat orang-orang untuk tetap mengantre demi membeli barang-barang dengan harga lebih murah tetap tinggi.

Editor : Ranto Rajagukguk