Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ekspor CPO Tumbuh 5,49 Persen, Mentan Amran Dorong Sawit Naik Kelas lewat Hilirisasi
Advertisement . Scroll to see content

Kurangi Impor Solar, Pengembangan Biodiesel 50 Persen Digenjot

Rabu, 30 Januari 2019 - 16:08:00 WIB
Kurangi Impor Solar, Pengembangan Biodiesel 50 Persen Digenjot
Ilustrasi. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Industri kelapa sawit dianggap sebagai sektor yang tidak ramah lingkungan oleh beberapa negara. Hal ini kemudian menyebabkan harga kelapa sawit di level petani kerap mengalami fluktuasi.

Namun, argumen ini dibantah oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Syakir. Menurut dia, pandangan tersebut digunakan oleh negara asing untuk melindungi komoditas nabati, yang digunakan untuk bauran bahan bakar.

"Eropa sudah memasarkan bahan bakar biodiesel dalam bentuk bauran kedelai, dikalahkan oleh sawit. Ini adalah cara-cara Eropa melindungi petani, membatasi produksi masuk impor CPO (Crude Palm Oil)," tutur Syakir dalam forum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Ia mengklaim, penggunaan biodiesel bauran CPO sangat ramah lingkungan. Syakir menampik, bahwa pembukaan lahan baru hanya berdampak buruk terhadap lingkungan.

"Pembukaan lahan, berdampak terhadap erosi, iya. Awalnya saja kita buka, tapi kemudian dia bisa menjadi tanaman yang mengikat oksigen paling kuat," ujar Syakir.

Syakir yang juga menjabat sebagai Komisaris Holding PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) kemudian mendorong penggunaan bahan bakar biodiesel bauran CPO, khususnya campuran 50 persen (B50), yang saat ini tengah dikembangankan. Hal ini dinilai perlu untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar bauran impor dari luar.

"Dengan lebih menggunakan bahan bakar biodiesel bauran CPO tidak hanya akan mengurangi ketergantungan impor. Tapi juga akan meningkatkan angka konsumsi kelapa sawit," tutur Syakir.

Syakir mengatakan, teknologi bahan bakar biodiesel bauran CPO ini sudah mulai dipelajari sejak 1990. "Kita ingin mencoba 50 persen, bagaimana mandatorinya. Kalo ini kita coba, luar negeri akan menderita," ujarnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut