Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perkasa, Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Kurs Rupiah Terus Menguat, BI Melihat Masih Kemurahan

Jumat, 30 November 2018 - 21:02:00 WIB
Kurs Rupiah Terus Menguat, BI Melihat Masih Kemurahan
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Ant)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren yang positif sepanjang November 2018. Menutup pekan, rupiah bergerak ke Rp14.300 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, terapresiasinya nilai tukar rupiah merupakan kombinasi antara faktor internal dan eksternal. Meski menguat, Perry melihat rupiah masih kemurahan (undervalue), sehingga masih berpeluang untuk terus menguat.

"Kami melihat meski nilai tukar rupiah stabil menguat, kami masih melihat bahwa rupiah itu masih undervalue," ujarnya di kantornya, Jakarta, Jumat (30/11/2018).

Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah itu menilai, penguatan rupiah karena derasnya aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke Indonesia. Sepanjang November 2018, capital inflow menembus Rp46,4 triliun, baik ke pasar obligasi maupun saham.

"Dengan aliran modal asing masuk tentu saja itu menambah supply dan kemudian memperkuat nilai tukar rupiah. Yang confidence itu juga tidak hanya terhadap kebijakan tetapi juga confidence terhadap bagaimana ekonomi kita terus membaik dengan stabilitas yang terjaga," tuturnya.

Selain itu, Perry menilai, langkah bank sentral menggerakkan mekanisme pasar untuk memperkuat rupiah mulai terlihat. Dengan berbagai kebijakan-yang ditempuh, pasar bekerja dengan baik di pasar spot, swap, dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Apalagi, lanjut Perry, permintaan dan penawaran demand di sektor korporasi dan perbankan juga aktif. Dengan demikian, selisih perdagangan mata uang di pasar spot dan NDF semakin susut hingga hingga di bawah Rp50.

Selain itu, Perry juga melihat tingkat ketidakpastian global mulai berkurang. Hal ini terkait adanya harapan akan perundingan perdagangan AS dan China. "Demikian juga bagaimana nanti kebijakan dari The Fed dengan statement-statement Jerome Powell (Gubernur The Fed) maupun yang lain," katanya.

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut