OJK Tak Risau dengan Utang Luar Negeri Indonesia yang Membengkak
JAKARTA, iNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia masih berada di level aman terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau tercatat tidak lebih di atas 40 persen.
ULN Indonesia pada akhir November 2017 tercatat sebesar 347,3 miliar dolar AS atau tumbuh 9,1 persen (yoy). "Utang Luar Negeri 34 sampai 35 persen dari PDB, ini masih jauh dari angka utang terhadap PDB di negara-negara di G-20," ucap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam diskusi Forum RSM, tentang Perkembangan Industri Keuangan dan Pasar Modal di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (5/3/2018).
Wimboh menambahkan, ULN Indonesia yang meningkat sebesar 34 persen tersebut dipicu oleh pembangunan infrastruktur yang terus ditingkatkan pada tahun ini. Namun, pihaknya optimistis jumlah duit yang dipinjamkan bisa dibayarkan pemerintah dalam jangka waktu 10 tahun.
Meski ULN Indonesia membengkak, Wimboh tidak terlalu merisaukannya. Perekonomian Indonesia dinilai akan tetap tumbuh dan mampu bersaing dengan negara lain yang juga memiliki ULN yang tinggi. "Semua masih terukur angka-angkanya," ujarnya.
Wimboh mencontohkan, Turki menjadi negara yang memiliki ULN yang tinggi, namun kondisi perekonomiannya tetap terjaga dengan baik. Begitu pula dengan China, yang memiliki ULN yang sangat tinggi baik dari pemerintah maupun swastanya. Negeri Tiongkok tercatat tak terpengaruh dan justru menjadi negara dengan perekonomian kedua terebesar dunia.
"Jadi kita tidak masalah dengan ULN, masih banyak room (ruang), tidak usah khawatir kalau dana dari luar masuk (ke dalam negeri)," katanya.
Di sisi lain, dengan cadangan devisa sebesar 130 miliar dolar AS, dia optimistis cukup untuk membiayai impor dan bunga ULN Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. "130 miliar dolar AS cadangan devisa kita bisa biaya impor selama delapan bulan. Ini luar biasa. Itu juga cukup untuk pembiayaan bunga kalau ada utang luar negeri," ujarnya.
Editor: Ranto Rajagukguk